Dokumen-dokumen dalam arsip pengadilan kerabian terakhir Tripoli berlangsung sekitar 90 tahun, dari tahun 1872 hingga 1960, dan berisi sekitar 250 nama pribadi (500 contoh), sebagian besar milik anggota komunitas Yahudi yang hidup pada periode ini, yang ditandai oleh perkembangan sejarah, budaya dan demografi yang penting. Makalah ini menyajikan analisis kumpulanContinue Reading

Orangtua mungkin menderita karena nama anggota baru keluarga mereka – tetapi jarang yang memperkirakan bahwa urusan nama anak bisa berakhir di sebuah pengadilan. Bagaimanapun, dalam beberapa tahun terakhir, hakim di seluruh dunia harus mengintervensi dan menantang keputusan orangtua: nama Nutella, dilarang di Prancis; Cyanide (sianida) dilarang oleh hukum di Inggris,Continue Reading

Suku Makassar (Bahasa Makassar : ᨈᨘ ᨆᨀᨔᨑ (Tu Mangkasara’) adalah etnis yang mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi, meliputi wilayah Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar, sebagian Maros, sebagian Pangkajene dan Kepulauan , sebagian Bulukumba dan sebagian Sinjai. Suku Makassar adalah salah satu suku terbesar di Sulawesi. Sumber-sumber PortugisContinue Reading

Nama Bugis di tanahnya sendiri sudah mengalami penurunan yang dramatis semenjak akhir abad ke-20. Akan tetapi, bagi beberapa orang Bugis yang tinggal di perantauan, nama Bugis justru digunakan sebagai peneguh identitas kultural, sekaligus sebagai pengingat kampung halaman. Mengabadikan Identitas Bugis Melalui Nama Sabda Tarotrinarta, seorang dosen ilmu komunikasi Universitas Tadulako,Continue Reading

Sebagai kelompok etnis terbesar di negara Muslim terbesar di dunia, orang Jawa menduduki posisi yang sangat strategis (dalam istilah demografis sederhana), karena praktik mereka dapat memberikan petunjuk tentang tren di wilayah tersebut. Sementara banyak pengamat memusatkan perhatian pada jilbab dan tanda-tanda visual lain dari tumbuhnya religiusitas di daerah tersebut, praktikContinue Reading

Secara tradisional, nama-nama Jawa bisa menjadi penanda klasifikasi sosial (kelas priyayi, kelas santri, kelas abangan, kelas bawah, kelas bangsawan, dan lain-lain), sekaligus sebagai penanda waktu atau kondisi ketika mereka dilahirkan. Namun, dalam 30 tahun terakhir, tradisi penamaan tersebut semakin ditinggalkan oleh generasi baru orang tua di Jawa dengan menggunakan nama-namaContinue Reading