Di masa lalu, nama hampir selalu bekerja sebagai penanda yang tegas: ia memberi tahu dunia apakah seseorang laki-laki atau perempuan. Ketika seseorang bernama “Budi” atau “Siti”, hampir tidak ada ruang ambiguitas dalam pembacaan sosial. Namun hari ini, kepastian itu mulai melemah. Nama tidak lagi selalu mengungkap, tetapi kadang justru menundaContinue Reading

Seorang bayi lahir tanpa nama, tetapi hampir seketika ia diberi identitas yang tidak hanya membedakannya sebagai individu, tetapi juga menempatkannya dalam kategori sosial tertentu: laki-laki atau perempuan. Nama menjadi salah satu medium paling awal di mana dunia “membaca” tubuh. Ketika seseorang mendengar nama “Ahmad”, “Putri”, “Michael”, atau “Sakura”, hampir seketikaContinue Reading

Ada masa ketika nama pesantren di Indonesia terasa sangat dekat dengan tanah. Ia tidak terdengar asing, tidak berjarak, dan tidak perlu diterjemahkan. Nama-nama seperti Tebuireng, Tambakberas, Lirboyo, Maskumambang—semuanya lahir dari tempat, dari lanskap, dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang mengitarinya. Pesantren, pada masa itu, tidak hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi jugaContinue Reading

Di berbagai ruang global—bandara, formulir visa, hingga platform digital—orang Indonesia sering berhadapan dengan pertanyaan yang tampak sederhana: apa nama belakang Anda? Pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab. Bagi banyak orang, tidak ada “nama belakang” dalam pengertian yang dimaksud oleh sistem global. Yang ada hanyalah nama—kadang satu kata, kadang rangkaian kata—tanpaContinue Reading

Nama Yunus merupakan salah satu nama yang memiliki resonansi kuat dalam tiga tradisi agama besar: Islam, Kristen, dan Yahudi. Dalam Islam ia dikenal sebagai Nabi Yunus, sementara dalam tradisi Kristen dan Yahudi ia dikenal sebagai Jonah. Ketiganya merujuk pada figur yang sama—seorang nabi yang kisah hidupnya dipenuhi ketegangan antara pelarian,Continue Reading

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15