Pernahkah Anda iseng melihat peta Jawa Tengah dan menyadari ada satu keunikan linguistik? Perhatikan. Mayoritas nama tempat di provinsi ini kental dengan aroma Sanskerta, Jawa Kuno, atau nama lokal, misalnya dengan imbuhan “Karta,” “Giri,” “Karang,” dan lainnya. Tapi, di tengah lautan nama-nama setempat itu, nyempil satu kabupaten dengan nama yang berasal dari bahasa Arab, kota Kudus.
Ya, Kudus. Berasal dari kata Al-Quds, yang merupakan nama Arab untuk kota suci Yerusalem di Palestina. Kok bisa? Siapa yang iseng copy-paste nama Yerusalem ke pesisir utara Jawa? Mari kita bedah sambil ngopi santai.
Di dunia akademik, ada cabang ilmu bernama toponomastik (toponomastics), studi tentang asal-usul nama tempat. Ilmu ini ngasih tahu kita bahwa nama tempat itu bukan sekadar label biar abang kurir gampang nyari alamat. Nama adalah identitas, klaim kekuasaan, narasi sejarah, memori peristiwa sakral, atau statement ideologis! Mengubah nama tempat berarti mengubah cara orang merasakan dan mengingat tempat tersebut.
Nah, Indonesianis Ben Anderson pernah menyoroti fenomena menarik di abad ke-16. Waktu itu, orang-orang Eropa suka menamai daerah jajahan baru dengan nama kampung halaman mereka. Makanya muncul nama New York (dari kota York di Inggris), sebelumnya bernama New Amsterdam ketika masih dikuasai Belanda, atau New Zealand (dari Zeeland di Belanda). Tujuannya? Untuk menciptakan ikatan emosional dan mengklaim otoritas atas wilayah baru tersebut.
Tebak siapa yang melakukan trik marketing serupa di abad ke-16 Nusantara? Ja’far al-Sadiq alias Sunan Kudus! Jauh sebelum tren “New-New-an” ala Eropa menjamur, Sunan Kudus sudah mempraktikkan teori Anderson ini. Beliau ingin membangun sebuah “Masyarakat Islam Ideal.” Alih-alih pakai nama lokal, beliau mengimpor langsung nama dari pusat spiritual dunia. Daerah yang dulunya bernama Tajug atau Loaram atau Kedungpaso atau Amrta, intinya dulu masih kawasan suci umat Hindu. Nama daerah ini di-rebranding total menjadi Kudus (Al-Quds).
Tak tanggung-tanggung, Sunan Kudus membawa paket franchise lengkap Yerusalem ke Jawa. Masjid agungnya diberi nama Masjid Al-Aqsa. Bahkan, pegunungan di dekat kota itu dinamai Gunung Muria, mengambil referensi dari Mount Moriah di Yerusalem. Konon, beliau juga membawa batu langsung dari Palestina untuk dipasang di mihrab masjid. Totalitas tanpa batas! Modelnya adalah Yerusalem di era Sultan Suleyman Akbar dari Daulah Usmani Turki yang menguasai Palestina kurang lebih di era yang sama dengan kota Kudus.
Tapi, Kenapa cuma Kudus?
Nah, ini plot twist-nya. Kalau strategi bikin “Kota Islami” ini sukses besar, logikanya kan Wali Songo yang lain bakal ikutan dong? Harusnya kita sekarang punya kota beridentitas Arab, seperti teorinya Ben Anderson. Tapi nyatanya, hanya Kudus. Kenapa?
Mungkin jawabannya ada pada karakter orang Jawa yang fleksibel tapi elegan dalam mempertahankan budayanya.
Masyarakat Jawa abad ke-16 itu sudah ribuan tahun hidup dalam kosmologi Hindu-Buddha-Keyakinan Leluhur. Ketika Islam datang, mayoritas masyarakat lebih suka pendekatan yang kompromistis tanpa menghilangkan vibe Jawanya.
Kota Kudus menjadi semacam “wilayah negosiasi.” Sementara daerah lain, kompromi budaya tetap diutamakan. Nama-nama berbau Sanskerta tetap dipertahankan.
Sunan Kudus sadar masyarakat sekitarnya masih banyak yang mempertahankan tradisi lokal dan Hindu. Beliau menyesuaikan diri. Ia melarang pengikutnya menyembelih sapi untuk hari raya kurban! Sapi adalah hewan suci bagi umat Hindu, dan Sunan Kudus menghormati itu dengan mengganti daging kurban menjadi kerbau. Bahkan, arsitektur Menara Kudus yang ikonik itu bentuknya mempertahankan jejak Hindu.
Jadi, begitulah kisah Yerusalem Jawa. Kudus adalah sebuah eksperimen toponomastik yang menakjubkan. Sebuah kota di mana ambisi teologis transnasional berjumpa, bernegosiasi, dan akhirnya melebur dengan keluwesan budaya Jawa.


