MSG dan “Chinese Food”: Nama, Stigma, dan Rasa yang Diperdebatkan

DAFTAR ISI

Tidak semua nama makanan lahir dari rasa yang ingin dikenali. Sebagian justru lahir dari rasa yang ingin dihindari.

Di banyak percakapan sehari-hari, terutama sejak paruh akhir abad ke-20, istilah “Chinese food” sering muncul dengan nada yang ambigu. Di satu sisi, ia merujuk pada kekayaan kuliner Tionghoa yang luas dan beragam. Di sisi lain, ia kerap disertai dengan satu bayangan yang lebih sempit: penggunaan MSG, atau monosodium glutamate, yang dianggap “tidak sehat.” Dalam banyak kasus, dua istilah ini—“Chinese food” dan “MSG”—seolah-olah melekat satu sama lain, membentuk asosiasi yang kuat, tetapi tidak selalu adil.

Di sinilah culinary onomastics bergerak ke wilayah yang lebih sensitif: ketika nama tidak hanya mengidentifikasi, tetapi juga menstigma.

MSG sendiri bukanlah sesuatu yang misterius. Ia adalah garam natrium dari asam glutamat, senyawa yang secara alami terdapat dalam banyak makanan seperti tomat, keju, dan rumput laut. Dalam tradisi kuliner Jepang, rasa yang dihasilkan oleh glutamat dikenal sebagai umami, salah satu dari lima rasa dasar (Ikeda, 1909/2002). Secara ilmiah, MSG telah lama digunakan sebagai penambah rasa yang aman dalam batas tertentu, dan diakui oleh berbagai badan kesehatan internasional (WHO, 1987; FDA, 2012).

Namun sejarah sosial MSG tidak sesederhana penjelasan ilmiahnya.

Istilah “Chinese Restaurant Syndrome” pertama kali muncul dalam sebuah surat pembaca di New England Journal of Medicine pada tahun 1968 (Kwok, 1968). Penulisnya mengaitkan gejala seperti sakit kepala dan rasa tidak nyaman dengan konsumsi makanan di restoran Tionghoa, dan salah satu tersangka utamanya adalah MSG. Meskipun tulisan itu bersifat spekulatif dan tidak berbasis penelitian sistematis, istilah tersebut dengan cepat menyebar ke media dan budaya populer.

Sejak saat itu, MSG tidak lagi sekadar zat kimia. Ia menjadi simbol.

Dan yang lebih penting, simbol itu tidak berdiri sendiri. Ia melekat pada label “Chinese food.” Dalam imajinasi publik Barat, makanan Tionghoa mulai diasosiasikan dengan sesuatu yang “tidak sehat,” “berlebihan,” atau bahkan “berbahaya.” Nama makanan di sini tidak hanya menjelaskan asal, tetapi juga membawa nilai—sering kali nilai negatif.

Padahal, penggunaan MSG tidak terbatas pada masakan Tionghoa. Ia digunakan secara luas dalam industri makanan global, termasuk dalam produk-produk yang tidak pernah disebut “Chinese.” Namun stigma tersebut tidak tersebar merata. Ia menempel pada satu kategori budaya tertentu.

Di sinilah kita melihat bagaimana penamaan bisa bekerja secara selektif.

Dalam perspektif culinary onomastics, “Chinese food” dalam konteks ini bukan sekadar kategori kuliner, tetapi juga konstruksi sosial. Ia menyederhanakan keragaman kuliner Tiongkok—yang sangat luas secara regional—menjadi satu label yang mudah dikenali, tetapi juga mudah distigmatisasi (Anderson, 1988; Wu & Cheung, 2002).

Lebih jauh lagi, asosiasi antara MSG dan “Chinese food” juga terkait dengan sejarah rasial dan migrasi. Komunitas Tionghoa di berbagai negara sering kali menghadapi stereotip dan diskriminasi, dan makanan menjadi salah satu medan di mana stereotip itu dimainkan. Nama, dalam hal ini, menjadi alat yang tidak netral—ia bisa memperkuat batas antara “kita” dan “mereka.”

Namun seperti banyak nama lain dalam rubrik ini, makna tersebut tidak tetap.

Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi upaya untuk merehabilitasi citra MSG. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa dalam jumlah wajar, MSG aman dikonsumsi, dan banyak chef serta penulis kuliner mulai mengkritik stigma yang tidak berdasar (Moskin, 2018; Tarasoff & Kelly, 1993). Bahkan, beberapa restoran dan produsen mulai secara terbuka menggunakan MSG sebagai bagian dari strategi transparansi—mengubah sesuatu yang dulu disembunyikan menjadi sesuatu yang dirayakan.

Di sisi lain, istilah “Chinese food” juga mulai mengalami reartikulasi. Generasi baru diaspora Tionghoa berusaha menampilkan keragaman kuliner mereka, menolak label yang terlalu menyederhanakan, dan memperkenalkan nama-nama hidangan yang lebih spesifik—mapo tofu, xiaolongbao, dan dan mian. Dengan demikian, nama yang dulu menjadi payung homogen mulai dipecah kembali menjadi identitas yang lebih kaya.

Ini menunjukkan bahwa nama tidak pernah sepenuhnya final. Ia selalu terbuka untuk dinegosiasikan ulang.

Jika kita bandingkan dengan tulisan-tulisan sebelumnya, kasus MSG dan “Chinese food” membawa kita ke dimensi yang berbeda. Jika curry adalah reduksi kolonial, dan satay adalah transliterasi global, maka di sini kita melihat nama sebagai arena stigma—tempat di mana sains, budaya, dan politik bertemu.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita tidak selalu menyadari lapisan ini. Ketika seseorang berkata “saya tidak mau makanan yang pakai MSG,” atau “saya ingin makan Chinese food,” mereka mungkin hanya menyatakan preferensi. Namun di balik kata-kata itu, ada sejarah panjang tentang bagaimana rasa dinilai, bagaimana budaya dikategorikan, dan bagaimana nama bisa membawa beban yang tidak terlihat.

Maka dalam culinary onomastics, penting untuk tidak hanya bertanya “apa nama makanan ini,” tetapi juga “apa yang dilakukan nama itu terhadap orang yang menggunakannya.”

Karena kadang-kadang, yang berubah bukan makanannya—tetapi cara kita menyebutnya.

Bibliografi

  • Anderson, E. N. (1988). The Food of China. Yale University Press.
  • Food and Drug Administration (FDA). (2012). Questions and Answers on Monosodium Glutamate (MSG).
  • Ikeda, K. (2002). “New Seasonings.” Chemical Senses, 27(9), 847–849. (Original work published 1909).
  • Kwok, R. H. M. (1968). “Chinese-Restaurant Syndrome.” New England Journal of Medicine, 278(14), 796.
  • Moskin, J. (2018). “MSG Is Back, Along With Its Fan Club.” The New York Times.
  • Tarasoff, L., & Kelly, M. F. (1993). “Monosodium L-glutamate: A double-blind study and review.” Food and Chemical Toxicology, 31(12), 1019–1035.
  • World Health Organization (WHO). (1987). Evaluation of Certain Food Additives.
  • Wu, D. Y. H., & Cheung, S. C. H. (2002). The Globalization of Chinese Food. University of Hawai‘i Press.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *