Bika Ambon: Nama yang Tersesat di Kota yang Tidak Pernah Dituju

DAFTAR ISI

Ada satu pertanyaan sederhana yang hampir selalu muncul ketika seseorang pertama kali mendengar nama bika ambon: apakah kue ini berasal dari Ambon? Pertanyaan itu terdengar wajar. Dalam logika sehari-hari, nama tempat biasanya menunjuk asal. Tetapi begitu kita mencicipinya—dan mengetahui bahwa kue ini justru sangat identik dengan Medan—muncul satu keganjilan yang khas: mengapa Ambon?

Di sinilah culinary onomastics bekerja paling menarik—ketika nama dan asal tidak berjalan beriringan, tetapi justru saling menyilang.

Bika ambon adalah kue bertekstur berongga, kenyal, dengan aroma khas dari santan, telur, gula, dan daun jeruk. Ia berkembang kuat di Medan, Sumatra Utara, dan menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari kota tersebut. Jalan Mojopahit di Medan bahkan dikenal sebagai “kawasan bika ambon,” tempat berbagai toko menjual kue ini dalam berbagai varian rasa. Dalam praktik sosial, tidak ada keraguan: bika ambon adalah Medan.

Namun, namanya berkata lain.

Asal-usul nama bika ambon tidak memiliki satu jawaban tunggal. Seperti banyak nama dalam sejarah kuliner, ia hidup dalam beberapa versi cerita—masing-masing mencerminkan cara berbeda masyarakat memahami masa lalu.

Salah satu penjelasan populer mengaitkan kata “ambon” dengan lokasi penjualan awal di Medan, yaitu di sekitar Jalan Ambon. Dalam versi ini, “ambon” bukan menunjuk kota Ambon di Maluku, tetapi nama jalan lokal. Kue itu menjadi “bika dari Ambon”—Ambon yang sangat Medan, bukan Ambon yang geografis (Rahman, 2016).

Versi lain menyebut kemungkinan pengaruh kuliner dari Indonesia Timur, khususnya dalam penggunaan bahan fermentasi seperti nira atau ragi yang menghasilkan tekstur berongga. Dalam konteks ini, “ambon” mungkin merujuk secara longgar pada asosiasi dengan wilayah timur Indonesia, yang dalam imajinasi kolonial dan pascakolonial sering disederhanakan dalam satu label (Suryadi, 2019). Namun, bukti historis yang menguatkan hubungan langsung ini tidak selalu solid.

Ada pula tafsir linguistik yang lebih spekulatif—bahwa “ambon” bisa berasal dari kata atau sebutan lokal yang mengalami perubahan bunyi seiring waktu. Seperti banyak nama makanan tradisional, dokumentasi awalnya sangat terbatas, sehingga penjelasan etimologis sering kali bergantung pada ingatan kolektif, bukan arsip tertulis.

Yang menarik bukanlah memilih mana yang “paling benar,” tetapi melihat bagaimana nama ini bekerja dalam praktik.

Dalam semua versi tersebut, satu hal tetap konsisten: “ambon” dalam bika ambon tidak berfungsi sebagai penunjuk geografis yang pasti. Ia adalah nama yang telah terlepas dari koordinat peta, dan hidup sebagai bagian dari identitas kuliner yang baru.

Di sinilah kita menemukan pola yang sudah muncul dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Seperti turkey yang bukan dari Turki, French fries yang bukan dari Prancis, atau Spanish bread yang tidak pernah ke Spanyol, bika ambon menunjukkan bahwa nama makanan sering kali lebih dekat dengan sejarah sosial daripada geografi.

Namun ada satu perbedaan penting.

Jika banyak contoh sebelumnya lahir dari perdagangan global atau kolonialisme lintas benua, bika ambon justru menunjukkan dinamika penamaan dalam skala nasional—bahkan lokal. Ia memperlihatkan bahwa “ketersesatan” nama tidak selalu membutuhkan dunia global; ia bisa terjadi dalam ruang budaya yang lebih dekat, melalui migrasi internal, perubahan kota, atau sekadar kebiasaan penamaan yang tidak pernah dipertanyakan.

Dalam konteks Medan, bika ambon tidak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang “asing.” Nama itu telah sepenuhnya menyatu dengan identitas kota. Orang tidak membeli bika ambon sebagai produk Ambon, tetapi sebagai produk Medan. Nama dan makna telah berpisah, tetapi hubungan itu tidak lagi dianggap masalah.

Ini menunjukkan satu hal penting dalam culinary onomastics: makna nama tidak ditentukan oleh asal-usulnya, tetapi oleh penggunaannya.

Lebih jauh lagi, bika ambon juga memperlihatkan bagaimana nama bisa menjadi ruang imajinasi. Kata “ambon” mungkin tidak menunjuk tempat secara literal, tetapi ia tetap membawa nuansa—eksotis, berbeda, atau sekadar menarik secara bunyi. Dalam dunia kuliner, daya tarik fonetik sering kali sama pentingnya dengan akurasi historis.

Jika kita kembali ke pengalaman sehari-hari, kebanyakan orang tidak memikirkan semua ini saat menikmati bika ambon. Mereka merasakan teksturnya yang unik, aromanya yang khas, dan mungkin membawanya pulang sebagai oleh-oleh. Nama itu bekerja secara diam-diam—tidak mengganggu, tetapi menyimpan cerita.

Dan justru di situlah kekuatannya.

Bika ambon adalah contoh bahwa nama makanan tidak selalu perlu “benar” untuk menjadi bermakna. Ia cukup hidup, diucapkan, dan diwariskan. Dalam proses itu, ia membentuk realitasnya sendiri—sebuah realitas di mana sebuah kue dari Medan bisa membawa nama Ambon, tanpa pernah benar-benar harus memilih salah satunya.

Menyebut bika ambon, dengan demikian, bukan hanya soal kue. Ia adalah cara kita—tanpa sadar—hidup dalam dunia di mana nama dan tempat tidak selalu berjalan bersama, tetapi justru saling mengisi dalam imajinasi kolektif.

Bibliografi

  • Rahman, F. (2016). Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia. Gramedia.
  • Suryadi. (2019). “Kuliner dan Identitas Lokal di Sumatra Utara.” Jurnal Kajian Budaya, 14(2).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *