Di suatu hari yang cerah di akhir tahun 1960an, datanglah seorang bapak-bapak keturunan Tionghoa ke kantor catatan sipil di salah satu daerah di tanah Jawa. Ketika ia duduk di kursi di depan meja admin, wajahnya lelah karena antrean yang demikian panjang. Ia menyodorkan formulir yang sudah diisinya tentang permohonan penggantian nama sesuai “anjuran” Keputusan Presidium Kabinet No. 127/U/Kep/12/1966. Silahkan baca keputusannya di tautan https://id.wikisource.org/wiki/Keputusan_Presidium_Kabinet_Nomor_127_Tahun_1966, biar tambah paham. Kepres ini menuntut keturunan Tionghoa mengganti nama asli menjadi nama yang vibes-nya “Indonesia bingits.” Tau sendirilah kalau berani tak ganti nama urusan administrasi bakalan ribet.
Beda dengan admin perbankan yang terlatih ramah, “apa yang bisa saya banting?” eh, bantu? Mas mas Admin yang satu ini pasang wajah Thanos. Maklum, bapak-bapak ini adalah orang ke 40 yang harus dia urus hari itu. Admin kin jigi minisi’i.
Ia menerima formulir dengan setengah malas.
Pas membaca kolom “Nama Baru,” matanya membelalak seperti sosok Stanley di film The Mask, yang matanya keluar dari soket. “Bentar, bentar … Engkoh yakin mau pakai nama ini?”
Gimana mas Admin gak syok berat? Nama yang dibubuhkan bapak ini sebagai pengganti nama Tionghoa-nya, auranya ningrat dan gagah banget: KASNOWO DIPONEGORO.
“Koh seriusan mau pakai nama ini?” sambil menatap curiga pada sang Bapak. “Namanya koq lebih Jawa dari orang Jawa asli, trus braninya pakai nama Pahlawan? Ini mah keberatan nama Koh. Mesti ruwatan 12x.” Si Bapak Tionghoa hanya senyum tipis sambil melap lehernya yang keringatan gak diterpa udara AC (angin cepoi cepoi). “Jangan salah paham mas,” ujarnya menenangkan. “Ini bukan sekedar nama. Ini sebenarnya password .. maaf ini sebenarnya singkatan.”
“Singkatan gimana?”
Bapak itu membetulkan kacamata dan mulai sok bijak.
“Ini singkatan dari … BeKAS CiNO dadi JoWO, DIpekso NEGORO.”
Bekas Cina jadi Jawa, dipaksa negara.
“Jadi gini mas. Kami sebagai orang Tionghoa, nama itu punya fungsi indeksikal. Ini kata Charles Sanders Peirce. Menunjuk garis keturunan lewat marga dan harapan keluarga, melalui pilihan nama sesudah marga. Jadi kebijakan ganti nama ini bisa dibilang pembunuhan onomastik, penghapusan identias secara sistematis. Dengan memaksa warga Tionghoa membuang marga mereka, negara memutus rantai sejarah dan silsilah keluarga kami. Nama barunya gak ada akar genealogis, tapi murni produk administrasi negara.
Jadi boleh dong kompensasinya nama yang ningrat dan heroik.”
Anjay … si Bapak.
Mas Admin auto kicep. Nyesel dulu gak ambil mata kuliah Politik Identitas. Mulutnya setengah terbuka. Dia mau ketawa ngakak tapi takut dosa dan takut atasan, mau marah tapi sadar kalau bapak di depannya ini cerdasnya kelewatan.
Begitulah sejak Orde Baru, nama orang Tionghoa banyak yang dipaksa di Indonesia-kan. Memang jadi kreatif sih. Misalnya So Kim An jadi Sukiman. Marga Lim jadi Halim, Salim, Limasa, dan lainnya. Ini hitungannya penamaan yang lempeng. Tapi yang unik misalnya she (marga) Hokkian, Chua dikondisikan jadi Cuaca. Ck ck ck. Nama yang meteorologik sekali. Mengingatkan saya anime Weathering with You (Makoto Shinkai).
Inilah contoh menarik nama yang maknanya meluap dan berlimpah-limpah hingga bukan saja double entendre, tapi melebarkan spektrum makna seperti amatan Ricoeur.
Meskipun ada lho yang semasa Orde Baru bersikeras nama Tionghoanya tidak diganti. Tokoh politik Kwik Kian Gie dan pengusaha Liem Swie Liong contohnya.
Kasnowo Diponegoro adalah dark joke politik kolonisasi identitas oleh negara yang memaksa subjeknya melakukan kamuflase dan mimikri (peniruan) seperti kata Homi Bhabha. Mimikri yang seringkali berujung mockery, seperti nama marga Cuaca di atas. Sebab dengan mengambil nama Indonesia, sering tidak bisa pas, dipaksakan, berbasis homofon, dan malah menunjukkan ambivalensi daripada menyelesaikan persoalan asimilasi seperti yang dimau Orde Baru.
Tapi Kasnowo Diponegoro juga menunjukkan betapa kreatifnya ruang ketiga yang diciptakan orang Tionghoa, mengarungi dan berjingkat dalam perjalanan “menjadi Indonesia” yang terus diawasi hantu-hantu diskriminasi. Ini contoh brilian respon hegemoni kekuasaan, yang menunjukkan asimilasi paksa tak pernah berhasil menindas identitas.
Hari ini kita menyaksikan “kembalinya” nama-nama asli Tionghoa atau bentuk bauran (hibrid) di kalangan Chindo (Tionghoa-Indonesia) seperti Justin Lim, Jessica Tan, dan seterusnya. Maupun kecenderungan Mandarinisasi (Hanyu Pinyin) untuk beranjak dari masa lalu yang menggunakan marga-marga Hokkian (seperti Liem, Tan, Phoa), Khonghu (misalnya Lam), atau Hakka, menjadi nama Mandarin sepenuhnya yang dikombinasikan dengan nama Barat/Kristen. Ini bentuk mobilitas baru yang memroyeksikan kelas sosial berbeda dengan masa lalu.
Tiada lagi Kasnowo Diponegoro. Yang ada, Jason Dirgantara Chen, yang lebih estetik dan terasa mahal.


