Writing Colonisation: a Book by Sabina Sestigiani

Buku Writing Colonisation pada dasarnya mengajak kita untuk melihat kolonialisme bukan sekadar sebagai peristiwa sejarah atau struktur politik, melainkan sebagai praktik semiotik—sebuah proses penulisan dunia. Kolonialisme, dalam pengertian ini, tidak hanya menaklukkan wilayah, tetapi juga menuliskan ulang realitas: memberi nama, mendefinisikan, mengklasifikasikan, dan pada akhirnya mengendalikan makna.

Sejak awal, buku ini berdiri di atas premis yang cukup kuat: bahwa bahasa adalah salah satu instrumen utama kolonisasi. Penulisan—baik dalam bentuk laporan perjalanan, peta, arsip administratif, maupun literatur—menjadi medium di mana dunia “lain” (the Other) diproduksi sebagai objek pengetahuan. Dengan kata lain, sebelum wilayah dijajah secara fisik, ia terlebih dahulu dijajah secara diskursif.

Dalam kerangka ini, “writing” bukan sekadar aktivitas mencatat, tetapi sebuah tindakan epistemologis. Ia menentukan apa yang dianggap nyata, siapa yang diakui sebagai subjek, dan siapa yang direduksi menjadi objek. Buku ini menunjukkan bahwa kolonialisme bekerja melalui teks: melalui deskripsi yang tampak netral, tetapi sesungguhnya sarat dengan asumsi-asumsi ideologis tentang ras, peradaban, dan hierarki budaya.

Salah satu kontribusi penting buku ini adalah pembongkaran terhadap ilusi objektivitas dalam tulisan kolonial. Catatan para penjelajah, misionaris, dan administrator kolonial sering kali dibaca sebagai dokumentasi faktual. Namun, Writing Colonisation memperlihatkan bahwa teks-teks tersebut justru membangun realitas tertentu—realitas yang menempatkan masyarakat lokal sebagai “liar”, “primitif”, atau “belum berkembang”. Di sini, tulisan berfungsi sebagai alat legitimasi: ia membenarkan kolonisasi dengan terlebih dahulu menciptakan kebutuhan akan kolonisasi itu sendiri.

Dalam konteks onomastika, buku ini sangat relevan karena menyinggung bagaimana penamaan menjadi bagian dari proses kolonial. Memberi nama pada tempat, orang, atau fenomena bukanlah tindakan netral. Ia adalah klaim atas otoritas. Ketika sebuah wilayah diberi nama baru oleh kekuatan kolonial, yang terjadi bukan hanya perubahan label, tetapi juga perubahan cara wilayah itu dipahami. Nama lokal sering kali dihapus, disederhanakan, atau diganti dengan nama yang lebih sesuai dengan logika kolonial.

Di sinilah kita melihat hubungan erat antara penamaan dan kekuasaan. Nama bukan sekadar penanda; ia adalah alat penguasaan simbolik. Dengan menamai, kolonialisme mengatur cara dunia dibaca. Dan dengan mengatur cara dunia dibaca, ia mengatur cara dunia diatur.

Buku ini juga menyoroti peran peta sebagai bentuk “tulisan” yang sangat politis. Peta kolonial tidak hanya menggambarkan ruang, tetapi juga mengorganisasikannya sesuai dengan kepentingan kekuasaan. Batas-batas ditarik, wilayah diklasifikasikan, dan ruang-ruang tertentu diberi prioritas. Dalam proses ini, pengalaman ruang masyarakat lokal sering kali diabaikan atau dihapus.

Namun, Writing Colonisation tidak berhenti pada kritik. Ia juga membuka kemungkinan untuk membaca ulang teks-teks kolonial secara kritis. Dengan pendekatan ini, kita dapat melihat celah-celah di mana suara lokal masih muncul—meskipun sering kali terdistorsi. Buku ini mendorong pembaca untuk tidak menerima teks kolonial secara apa adanya, tetapi membacanya sebagai medan kontestasi makna.

Salah satu bagian yang menarik adalah bagaimana buku ini menunjukkan bahwa kolonialisme tidak pernah sepenuhnya berhasil mengontrol makna. Masyarakat lokal sering kali melakukan negosiasi, resistensi, atau bahkan apropriasi terhadap bahasa kolonial. Nama-nama baru bisa diadaptasi, diubah, atau diberi makna ulang. Dengan demikian, proses “writing colonisation” selalu diiringi oleh proses “rewriting” dari pihak yang dijajah.

Secara teoretis, buku ini beririsan dengan pemikiran postkolonial, terutama gagasan tentang diskursus (Foucault), representasi (Said), dan kekuasaan simbolik (Bourdieu). Namun, kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya untuk menghubungkan teori-teori tersebut dengan praktik konkret penulisan. Ia menunjukkan bagaimana konsep-konsep abstrak bekerja dalam teks-teks nyata.

Meski demikian, buku ini juga memiliki keterbatasan. Fokusnya yang kuat pada teks membuat aspek material kolonialisme—seperti kekerasan fisik atau eksploitasi ekonomi—tidak terlalu banyak dibahas. Selain itu, karena banyak bertumpu pada analisis wacana, pembaca yang mencari data empiris yang luas mungkin merasa kurang terakomodasi. Namun, ini lebih merupakan pilihan pendekatan daripada kelemahan.

Jika dibaca dalam konteks proyek Anda tentang politics of naming, buku ini menawarkan landasan teoritis yang sangat kuat. Ia membantu kita memahami bahwa penamaan bukan sekadar praktik budaya, tetapi juga praktik kekuasaan yang historis dan politis. Dalam konteks Jawa, misalnya, kita bisa melihat bagaimana nama-nama kolonial, nama-nama Islam, dan nama-nama lokal saling berinteraksi dalam membentuk identitas.

Pada akhirnya, Writing Colonisation mengajarkan satu hal penting: bahwa dunia yang kita kenal hari ini sebagian besar adalah hasil dari proses penulisan. Dan jika kolonialisme pernah menulis dunia dengan caranya sendiri, maka tugas kita sekarang adalah membaca ulang—dan mungkin menulis ulang—dunia itu dengan cara yang lebih adil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *