Ada satu kalimat yang mengguncang Amerika pada tahun 1960-an: “Cassius Clay is my slave name. I didn’t choose it, and I don’t want it.” Sejak saat itu, seorang petinju muda yang baru saja menjadi juara dunia tidak lagi ingin dipanggil dengan nama yang membuatnya terkenal. Ia memilih nama baru: Muhammad Ali.
Perubahan ini bukan sekadar pergantian identitas personal. Ia adalah penolakan terbuka terhadap sejarah—sejarah perbudakan, dominasi rasial, dan warisan nama yang tidak pernah benar-benar dimiliki oleh mereka yang menyandangnya. Dalam satu keputusan, seorang atlet mengubah bukan hanya namanya, tetapi juga cara dunia memahami hubungan antara identitas, agama, dan kekuasaan.
Ia lahir sebagai Muhammad Ali, tetapi bukan dengan nama itu. Nama yang diberikan kepadanya saat lahir adalah Cassius Marcellus Clay Jr., diambil dari seorang politikus kulit putih abad ke-19 yang dikenal sebagai abolisionis (Hauser, 1991). Sekilas, ini tampak seperti penghormatan yang mulia. Namun dalam konteks sejarah Amerika, nama itu tetap membawa jejak struktur sosial yang tidak seimbang—sebuah warisan dari masa ketika orang kulit hitam tidak memiliki kuasa penuh atas identitas mereka sendiri (Marqusee, 1999).
Ali tumbuh di Louisville, Kentucky, dalam masyarakat yang masih dipisahkan secara rasial. Ia belajar sejak dini bahwa warna kulit menentukan batas-batas kehidupan: di mana seseorang boleh makan, belajar, atau bahkan bermimpi. Namun di tengah keterbatasan itu, ia menemukan ruang kebebasan dalam tinju. Dengan bakat, kepercayaan diri, dan karisma yang luar biasa, ia dengan cepat naik ke puncak dunia olahraga (Hauser, 1991).
Pada tahun 1964, setelah mengalahkan Sonny Liston dan menjadi juara dunia kelas berat, Cassius Clay mengumumkan sesuatu yang lebih mengejutkan daripada kemenangannya: ia bergabung dengan Nation of Islam. Tidak lama setelah itu, ia menyatakan bahwa ia tidak lagi ingin dipanggil Cassius Clay. Nama itu, menurutnya, bukan miliknya. Ia adalah “nama budak” (Ali & Durham, 1975).
Sebagai gantinya, ia menerima nama baru dari pemimpin Nation of Islam, Elijah Muhammad: Muhammad Ali. Nama ini sarat makna. “Muhammad” merujuk pada Nabi Islam, sementara “Ali” mengingatkan pada figur penting dalam sejarah Islam. Nama ini bukan hanya religius, tetapi juga simbolik—sebuah penegasan bahwa identitasnya kini berakar pada tradisi yang berbeda dari warisan kolonial Amerika (Curtis, 2006).
Namun dunia tidak langsung menerima perubahan ini.
Banyak media dan tokoh publik tetap memanggilnya Cassius Clay, seolah-olah menolak mengakui identitas barunya. Bahkan dalam beberapa pertandingan, komentator dengan sengaja menggunakan nama lamanya. Ini bukan sekadar kebiasaan. Ini adalah bentuk resistensi terhadap klaim identitas yang ia buat (Marqusee, 1999).
Ali merespons dengan tegas. Ia berulang kali menolak menjawab jika dipanggil dengan nama lama. Dalam banyak wawancara, ia menegaskan bahwa menerima nama “Clay” berarti menerima sejarah yang ia tolak. Dalam hal ini, perubahan nama menjadi bentuk perlawanan yang sangat personal sekaligus sangat politis (Ali & Durham, 1975).
Namun perjalanan Ali tidak berhenti pada perubahan nama. Pada tahun 1967, ia menolak untuk wajib militer dalam Perang Vietnam, dengan alasan keyakinan agama dan penolakannya terhadap perang yang ia anggap tidak adil. Keputusan ini membuatnya kehilangan gelar juara dunia, lisensi bertinju, dan hampir seluruh penghasilannya. Ia bahkan dijatuhi hukuman penjara (yang kemudian dibatalkan di tingkat banding) (Hauser, 1991).
Dalam periode ini, nama “Muhammad Ali” menjadi lebih dari sekadar identitas. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap negara, terhadap perang, dan terhadap struktur kekuasaan yang dianggap tidak adil (Marqusee, 1999).
Dalam kajian sejarah dan budaya, perubahan nama seperti yang dilakukan Ali dapat dipahami sebagai bagian dari politik penamaan—sebuah praktik di mana individu atau kelompok menegosiasikan identitas mereka melalui bahasa (Lieberson, 2000). Dalam konteks Amerika abad ke-20, ini sangat terkait dengan perjuangan hak sipil dan gerakan Black Power.
Seperti halnya Malcolm X, Ali tidak hanya mengganti nama. Ia mengganggu asumsi dasar tentang siapa yang berhak menentukan identitas seseorang. Apakah nama ditentukan oleh keluarga, oleh negara, oleh sejarah—atau oleh individu itu sendiri?
Namun yang membuat kisah Ali unik adalah bagaimana nama itu berkembang bersama hidupnya. Ia tidak berhenti sebagai simbol perlawanan radikal. Seiring waktu, terutama setelah kembali ke ring dan merebut kembali gelar juara dunia, Ali menjadi figur yang lebih luas—tidak hanya sebagai aktivis, tetapi juga sebagai ikon global (Hauser, 1991).
Nama “Muhammad Ali” yang dulu ditolak oleh banyak pihak akhirnya menjadi nama yang dihormati di seluruh dunia. Ia menjadi simbol bukan hanya bagi komunitas kulit hitam atau umat Islam, tetapi juga bagi kemanusiaan secara umum.
Di sini, kita melihat transformasi yang menarik: nama yang awalnya kontroversial berubah menjadi universal. Ia tidak kehilangan makna politiknya, tetapi melampauinya.
Kisah ini menunjukkan bahwa nama tidak pernah statis. Ia bergerak bersama sejarah, berubah bersama pengalaman, dan mendapatkan makna baru seiring waktu. Nama “Muhammad Ali” hari ini tidak hanya mengingatkan kita pada seorang petinju, tetapi juga pada perjuangan, keberanian, dan hak untuk menentukan identitas sendiri.
Ketika Cassius Clay menjadi Muhammad Ali, ia tidak hanya mengganti nama. Ia mengklaim kembali dirinya.
Dan dalam tindakan itu, kita melihat bahwa nama bukan sekadar kata. Ia adalah arsip sejarah—dan dalam beberapa momen, arsip keberanian.
Bibliografi
- Ali, Muhammad, dan Richard Durham. 1975. The Greatest: My Own Story. New York: Random House.
- Curtis, Edward E. 2006. Black Muslim Religion in the Nation of Islam, 1960–1975. Chapel Hill: University of North Carolina Press.
- Hauser, Thomas. 1991. Muhammad Ali: His Life and Times. New York: Simon & Schuster.
- Lieberson, Stanley. 2000. A Matter of Taste: How Names, Fashions, and Culture Change. New Haven: Yale University Press.
- Marqusee, Mike. 1999. Redemption Song: Muhammad Ali and the Spirit of the Sixties. London: Verso.


