Korban “Cancel Culture”: Gimana Suyudana Berubah Jadi Duryudana

Novelis Amerika, Ursula Le Guin dalam novel ikoniknya, The Wizard of Earthsea (1968) bilang begini, “Nama itu ya sesuatu, kalau kita tahu nama aslinya dan kita sebutin namanya, kita pegang remote control nasibnya” (The name is the thing, and the true name is the true thing. To speak the name is to control the thing). Ini buku berkisah para penyihir yang wajib menghafal nama rahasia elemen alam, hewan, sampai manusia. Tujuannya? Biar bisa meng-ulti, nyantet dan mengendalikan nasib mereka.

Itulah adagium dikajian sosiolinguistik, to name is to control. Serem ya. Begitulah tak hanya kata kak Ursula, tapi banyak budaya yakin memberi nama atau mengubahnya adalah kuasa atas nasib seseorang.

Sekarang bayangkan situasi ini. Orang tua kita sudah repot-repot syukuran bubur merah putih, memberikan nama anaknya yang adalah doa, pas sudah besar diganti orang lain seenaknya, untuk menentukan nasib dan jatidirinya selanjutnya. Nyesek rasanya!

Inilah nasib yang dialami tokoh epik Mahabharata, sang Putra Mahkota Hastinapura. Saya mengenalnya semasa bocil lewat komik R.A. Kosasih, Duryudana. Dia adalah the arch villain, musuh bebuyutan tokoh pahlawan, para Pandawa, dia juga CEO kelompok kriminal terorganisir, The Kuravas. Begitulah benak saya merekamnya.

Tapi semua itu ambruk kedebruk, pas membeli buku yang oleh terjemahan Javanica diberi judul mind blowing, Mahakurawa (2019). Karya Anand Neelakantan ini, yang aslinya dalam seri Ajaya (Ajaya aja sudah counter-intutive, harusnya kan Jaya Raya) mendekonstruksi kisah Mahabharata dengan membongkar penindasan tokoh yang selama ini kita anggap “baik.” Bukan karena Kurawa, pimpinan Su-/Duryudana adalah deretan malaikat, tapi kisah ini jauh dari hitam dan putih, dan banyak kisah subversif yang, dalam bahasa Freud, ditindas dan disembunyikan di bawah karpet, dengan menyangatkan karakter iblis mereka, sebaliknya mengglorifikasi tokoh utamanya. Semuanya toh, tergantung kepentingan dan siapa pemenang pertarungan wacana.

Di buku ini, Anand membongkar rahasia dapur hegemonik kisah Mahabharata. Ia menuliskannya dari POV mereka yang kalah. Katanya, nama asli si abang ini Suyudana (Suyodhana), dan menurut catatannya di bagian-bagian wilayah India ada yang justru menyembahnya sebagai tokoh baik dan murah hati. Misalnya di Kuil Malanada, Poruvazhy, negara bagian Kerala, tempat kelahiran Anand.

Awalan “Su-” dalam bahasa Sanskerta berarti baik, agung, atau mulia, mirip dengan nama-nama khas Jawa seperti Su-karno (sangat baik), Su-darmi (perempuan baik), dan seterusnya. Suyudana secara harfiah berarti “Pejuang yang hebat/baik”. Lalu, kenapa berubah jadi “Dur-” yang artinya buruk atau sulit?

Disinilah terjadi character assassination zaman old. Setidaknya menurut Anand, karena Pandawa memenangkan perang Kurukshetra, merekalah yang memegang kendali nasib para tokohnya dalam catatan kisah. Mengubah “Su” menjadi “Dur” adalah cara mulus mencuci otak netijen zaman kuno agar membenci kubu Kurawa di bawah alam bawah sadarnya.

Dengan memanggilnya Duryudana, hegemoni Pandawa sukses mengunci karakter tersebut dalam bingkai “si penjahat” seumur hidup, bahkan sebelum si tokoh sempat melakukan klarifikasi di podcast mana pun. Ini adalah bentuk cancel culture purna.

Di dunia pewayangan Nusantara sendiri, hegemoni nama Duryudana ini sudah mendarah daging. Para dalang dari zaman Mataram hingga era modern hampir selalu mendeskripsikan Duryudana dengan suara serak, tertawa sombong, dan watak culas. Padahal, kalau merujuk pada narasi Ajaya, Suyudana adalah pemimpin progresif yang menolak sistem kasta, berani mengangkat derajat Karna (si anak kusir) menjadi raja, dan sangat setia kawan. Sayangnya, semua kebaikan dan visi progresif itu tertutup rapat oleh pergantian satu huruf konsonan: dari S menjadi D.

Nasib malang Suyudana adalah contoh bagaimana narasi sejarah ditulis oleh para pemenang, dan pemenang berhak memegang hak cipta atas akta kelahiran tokoh-tokohnya. Begitulah kata Anand Neelakantan. Cari bukunya dan monggo spill pandangan kalian. (Disclamer: saya bukan endorser berbayar nggih).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *