Password Jalur Langit: Ketika Nama Tuhan Jadi Kontestasi

Urusan ganti nama itu ribet. Jangankan ganti nama di KTP, ganti username akun media sosial saja butuh pertimbangan matang. Nah, bayangkan kalau yang diperdebatkan adalah nama Tuhan. Wah, urusannya bisa bikin geger satu negara!

Di Indonesia, ada fenomena unik bernama Gerakan Nama Suci, sering dikaitkan dengan kelompok Kristen Mesianis dan namanya komunitasnya beragam. Circle ini menolak keras penggunaan kata “Allah” dalam Alkitab dan ibadah Kristen. Alasannya? Mereka meyakini kata itu bukan nama Tuhan “asli” dan punya konotasi agama lain. Sebagai gantinya, mereka ngotot back to basic menggunakan nama Ibrani: “Yahweh” dan “Elohim.” Bagi mereka, menyebut nama yang benar itu ibarat memasukkan password ke server langit. Salah sebut, doa bisa nyasar.

Untuk waktu yang lama gerakan ini menciptakan dinamika internal dan kontestasi di kalangan Kristen Indonesia.

Apa sih latar belakangnya? Kita menelusuri gambaran nama Tuhan dalam Alkitab Kristen dan Yahudi. Disebut Perjanjian Lama oleh kalangan Kristen, dirujuk Tanakh oleh orang Yahudi.

Di dunia Ibrani kuno, sama seperti masa kini, nama tidak punya “esensi” dalam dirinya. Ia lebih sering sebagai identitas. Tapi dalam momen dan konteks tertentu, nama bukan sekedar label, tapi sebagai pernyataan teologis tentang identitas, watak, akhlak, dan nasib. Serius banget ya? Untuk memahaminya kita belajar dari ilmu linguistik. Ada dua pendekatan tentang nama, khususnya dalam topik nama Tuhan: onomasiologi dan semasiologi.

Di zaman dulu, seperti Mesir atau Kanaan (nama lama Palestina/Israel) maupun peradaban kuno lainnya, orang-orang terbiasa dengan pendekatan onomasiologi. Manusia melihat fenomena alam semesta, lalu mencari tahu siapa kekuatan ilahi yang mengurusnya.

“Siapa yang ngurus penciptaan?” Oh, Dewa Ptah (Mesir). “Siapa penguasa tertinggi?” Oh, Dewa El (Kanaan). “Apa yang menguasai laut,” Dia namanya Poseidon (Yunani). Ini ibarat memberi Tuhan sebuah “Label Jabatan” atau menganggap-Nya sebagai menteri urusan tertentu.

Dalam Alkitab juga terjadi proses onomasiologis namun kebanyakan tidak langsung ke Tuhan. Dalam Kejadian 1, Tuhan menamai terang, “siang.” Atau Hagar (Siti Hajar dalam tradisi Islam), menamai Tuhan, El-Roi, karena dalam kesusahan Tuhan menolongnya. El-Roi, artinya “Allah memperhatikan/melihat aku.” Banyak contoh lainnya khususnya penamaan orang, nama atau julukan kepada sosok yang diberikan secara onomasiologis seperti Abraham, Yakub, Israel, dan Petrus.

Dalam kaitan nama Tuhan Alkitab lebih mengarah pada semasiologis. Kenapa? Karena kalau Tuhan Israel (YHWH, secara akademis diucapkan “Yahweh”) dilabeli sebagai “Dewa Gunung” atau “Dewa Badai”, Dia disamakan dengan dewa-dewa bangsa lain. Tuhan tidak mau dikotakkan, direduksi, atau “dijinakkan” ke dalam satu fungsi alam saja. Dia adalah Pencipta segalanya, bukan sekadar “Direktur Urusan Cuaca.” Demikian alam pikir Alkitab.

Karena menolak dikotakkan, kita memahaminya lewat pendekatan semasiologi teologis. Kebalikan dari yang pertama: kita berangkat dari nama atau sebutan-Nya, lalu maknanya terus berkembang seiring dengan tindakan-Nya di dalam sejarah. Dalam hal ini nama muncul karena ada track record sosok pribadinya.

Jadi, makna nama Tuhan tidak diambil dari wujud fisik atau fenomena kosmis, melainkan dari karakter dan perbuatan-Nya. Misalnya, Alkitab menyebut Tuhan dengan kata Qadosh (Yang Mahakudus, yang memisahkan diri dari kejahatan) atau ‘Elyon (Yang Mahatinggi). Gelar-gelar ini muncul dari pengalaman manusia melihat bagaimana Tuhan bertindak. Sebenarnya inipun mengandung dimensi onomasiologis. Namun telah berkelindan dengan dinamika interaksi Tuhan dan umat-Nya dalam sejarah. Tapi ada momentum yang sepenuhnya semasiologis.

Yaitu momen epik saat Tuhan pertama kali spill nama-Nya ke Nabi Musa.

Ceritanya begini: Musa lagi asyik menggembala, tiba-tiba melihat semak berduri terbakar tapi tidak hangus. Dari situ, Tuhan memberinya misi berat membebaskan bangsa Israel. Bukannya langsung bilang “Siap, laksanakan!”, Musa malah overthinking dan nanya, “Nanti kalau orang Israel nanya siapa nama yang ngutus aku, aku harus jawab apa?”

Di sinilah plot twist-nya. Alih-alih langsung memberikan kartu nama, Tuhan malah memberi jawaban yang bikin filsuf dan teolog pusing tujuh keliling sampai hari ini. Tuhan menjawab: “ʼEhyeh ʼasher ʼehyeh” (diterjemahkan dalam Alkitab Kristen, “Aku adalah Aku”).

Jawaban ini sebenarnya menunjukkan kalau Tuhan itu enggan dikotak-kotakkan dalam kategori manusia. Ekspresi ini yang diyakini akar nama YHWH, tetragrammaton, alias “empat huruf” istilah teknisnya. Karena ada larangan hukum Taurat, menyebut nama Tuhan sembarangan, maka di kalangan Yahudi saleh, mereka menyebut namaNya dengan acuan tak langsung, Ha-Shem (nama itu) atau Adonay, supaya tidak menajiskannya. Di kalangan akademisi dan para penganut Gerakan Nama Suci, YHWH diungkap sebagai “Yahweh.”

Lebih serunya, selama ini, nama itu dianggap sebagai identitas Tuhan yang paling mutlak dan abadi (le-ʽolam). Tapi, usut punya usut, akar kata Ibraninya juga bisa dibaca sebagai le-ʽalem, yang artinya “untuk disembunyikan.”

Jadi, di satu sisi Tuhan mengungkapkan diri-Nya, tapi di sisi lain Dia malah main petak umpet! Tuhan seolah ingin bilang, “Ini nama-Ku, tapi jangan harap kalian bisa sepenuhnya mendefinisikan atau menguasai-Ku lewat sebuah nama.” Ini dimensi semasiologi-nya.

Kembali ke ribut-ribut Gerakan Nama Suci di Indonesia. Memperdebatkan “Allah” vs “Yahweh” sampai bikin ketegangan dan kontestasi intraagama agak ironis. Kalau kita melihat sejarahnya, nama Tuhan itu selalu melampaui batas budaya dan bahasa. Memuja nama secara berlebihan (onomolatri) justru bikin kita lupa pada esensi nama Tuhannya itu sendiri. Masyarakat Yahudi dan Kristen Arab sejak lama tidak punya masalah jika Tuhan Alkitabiah, Elohim sering dengan leluasa dibaca “Allah,” sama seperti tradisi Islam, bahkan ada juga YHWH yang dibaca “Allah,” misalnya dalam kitab Yahudi kalangan Qaraim, Kitab Al-Anwar Wal-Maraqib.

Jadi nama Tuhan bukan brand yang butuh hak paten nama, dan pastinya, password jalur langit tak hanya monopoli satu circle saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *