Ironi “Tsimtsum:” Kenapa Kapal di Life of Pi Harus Tenggelam

Salah satu film favorit saya adalah Life of Pi besutan sutradara Ang Lee. Novelnya oleh Yann Martel. Visual filmnya dan kisahnya luar biasa tentang cowok India, Pi Patel, yang nyangkut di sekoci bareng macan Benggala bernama Richard Parker, setelah kapal yang membawanya dan keluarganya tenggelam di Samudra Pasifik. Pi Patel dewasa diperankan bintang favorit saya juga, almarhum Irfan Khan.

Jika pernah nonton filmnya atau baca novelnya, kapal kargo Jepang yang ditumpangi Pi dan keluarganya, lalu karam itu namanya Tsimtsum. Ini bukan nama kuliner, variasi bubur sum-sum atawa dimsum. Ini nama serius, bahkan spiritual.

Yann Martel itu nggak sembarangan ngasih nama. Dari sekian juta nama kapal yang wajar kayak Ocean Explorer atau Titanic V2, dia milih “Tsimtsum.” Kenapa? Usut punya usut, istilah ini referensinya ilmu kebatinan Yahudi, alias Kabbalah. Yang percaya teori konspirasi Yahudi tahan napas. Ini kan bestie-nya elit global Iluminati, Freemason, dan gerombolannya?

Tapi jika mau berpikir tenang dan mencari tahu referensi paten, ini adalah gerakan keagamaan dan spiritualitas yang unik dalam sejarah agama Yahudi. Tsimtsum itu branding Kabbalah, spesifiknya, Kabbalah Lurianik hasil olah batin Rabbi Isaac Luria dari abad ke-16.

Mari kita bedah konsep teologi spiritualitas abad ke-16 ini pakai bahasa tongkrongan.

Gini ceritanya. Di ajaran Kabbalah Lurianik, konsep penciptaan alam semesta itu mindblowing. Bayangin Tuhan (disebut Ein Sof alias Yang Tak Terhingga) itu eksis di mana-mana. Kehadiran-Nya itu full tank. Mentok. Tak ada ruang kosong se-milimeter pun. Rawan kan ya kalau semesta dan isinya sudah dibooking sosok ilahi, lalu bagaimana ruang bagi manusia dan kemanusiaan?

Solusinya: Tuhan harus narik napas dalem-dalem, lalu “menyusut”, “menarik diri”, atau mundur teratur buat menyisakan ruang kosong alias void. Nah, proses Tuhan minggir buat membuka space kosong ini namanya Tsimtsum (atau Tzimtzum).

Di ruang kosong yang ditinggalkan itulah, alam semesta, bumi, manusia, sistem tata surya, akhirnya bisa eksis. Kalau Tuhan tak “mundur” (Tsimtsum), ya tak ada realitas kita, karena semuanya bakal tertutup cahaya Ilahi yang terlalu overpower. Ibarat memori HP kita, demi game Kenshin Impact kita harus rela hapus memori cache atau mengorbankan file drakor di Netflix. Harus ada yang dikosongkan dulu agar ada hal baru yang bisa masuk.

Dalam Alkitab Yahudi, Tanakh (dalam tradisi Kristen, “Perjanjian Lama”) awal penciptaan dunia ditandai dengan “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Dalam tatapan mistis Kabbalah itulah dampak Tsimtsum. “Belum berbentuk dan kosong” disebut dengan khalal ha-panuy, kevakuman yang siap menampung terang pertama penciptaan.

Nah, kembali ke kisah Pi.

Di awal cerita, kita tahu Pi ini remaja yang “maruk” agama. Dia rajin ke kuil Hindu, sholat di masjid, tapi juga rajin ke gereja. Kurang apa coba? Nah, dimasukannya konsep Yahudi lewat nama kapal ini jadi semacam bumbu pelengkap yang bikin cerita Pi jadi jauh lebih menarik.

Kapal Tsimtsum di awal cerita adalah “dunia absolut” buat si Pi. Isinya lengkap: keluarganya ada, hewan-hewan kebun binatang bapaknya ada, kenyamanannya terjamin. Semuanya full tank. Selama Pi ada di atas kapal Tsimtsum, dia tak bisa jadi tokoh utama yang epik. Dia hanya remaja biasa yang pindah ke Kanada, kuliah, dan mungkin buka pet shop.

Biar cerita petualangan spiritual dan pendewasaan si Pi bisa dimulai, “Tuhan” (lewat tangan sang penulis) harus bikin ruang kosong. Gimana caranya? Ya kapalnya harus karam!

Kapal Tsimtsum tenggelam ke dasar laut. Dalam film digambarkan epik-estetik, terbenam di kedalaman samudra dengan nama Tsimtsum terlihat nyata, besar lalu mengecil dan lenyap. Kapal itu “menarik diri,” tersedot persis kayak konsep Tsimtsum di Kabbalah. Kepergian si kapal ini ninggalin kekosongan yang luar biasa absolut dan brutal buat Pi. Ada samudra luas yang sepi, hampa, tanpa keluarga, tanpa jaring pengaman.

Tapi, di situlah plot twist terbesarnya: di ruang kosong yang maha menakutkan inilah “penciptaan” terjadi. Realitas baru Pi terbentuk. Di tengah kehampaan itu, Pi menemukan insting bertahan hidupnya, berjumpa esensi Tuhan di tengah badai, dan tentu saja, menjalin love-hate relationship sama macan loreng yang hobi menatapnya sebagai santapan dari ujung sekoci. Tanpa hilangnya kapal Tsimtsum, tak akan ada ruang bagi Pi bertransformasi (baca kaitan ini di: https://jewishjournal.com/culture/arts/110416/pi-is-approximately-3-1416-jewish/).

Orang Romawi kuno punya pepatah legendaris, Nomen est omen. Artinya secara harfiah, “Nama adalah pertanda,” atau, “Nama adalah takdir.” Kalau di Indonesia, kita sering dengar “nama adalah doa.”

Nomen est omen ini menunjukkan identitas, nasib, atau jalan hidup seseorang (atau sesuatu) sudah tersirat dari namanya. Di dunia nyata, teori ini kadang meleset. Temen kita yang namanya “Tegar,” tapi diputusin pacar nangisnya tiga hari tiga malam. Atau si Untung yang malah buntung bisnisnya.

Tapi di dunia fiksi? Nomen est omen bisa jadi menarik. Ketika Yann Martel menamai kapalnya “Tsimtsum,” dia seakan mengunci takdir si kapal. Kapal itu tak tenggelam karena cuaca buruk semata. Kapal itu terbenam karena namanya menuntut dia menghilang. Takdirnya memang harus lenyap, Tsimtsum, demi membuka ruang kosong buat lautan luas tempat Pi menemukan Tuhan.

Ada juga konsep onomastika yang namanya Aptronym (atau Charactonym). Ini adalah nama yang secara unik mendeskripsikan sifat, pekerjaan, atau nasib si pemilik nama. Contah nyatanya banyak. Usain Bolt, juara lari yang larinya secepat kilat (bolt), atau Sara Blizzard, ahli cuaca yang sering meramalkan petir (blizzard), simak juga si William Wordsworth, penyair Inggris yang merangkai kata-kata indah (wordsworth), dan Lance Bass, penyanyi bass, di ‘N Sync. Di fiksi tentu si Cruella de Vil, si iblis kejam (cruel).

Yann Martel pakai aptronym ini bukan spill plot di awal, tapi buat kasih teka teki teologis. Hanya pembaca dan penonton yang ngulik Kabbalah atau paham bahasa Ibrani yang bakal membatin dari awal, “Wah, ini kapal nasibnya bakal sendu bentar lagi.“

Lewat kacamata onomastika, nama Tsimtsum itu bukan sekadar tempelan. Lewat konsep Nomen est omen, kapal itu memang akan jadi tumbal. Dia harus menyusut agar karakter Pi bisa hidup dan berkembang.

Jadi, kalau mau buka startup atau kasih nama anak. Waspadalah!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *