The Odyssey: Definisi Haus Validasi yang bikin nyasar 10 tahun

Bioskop Indonesia penuh sesak penonton mahakarya terbaru Christopher Nolan, The Odyssey. Kisah tokoh Odysseus dan vibe visualnya, monggo dinikmati masing-masing. Saya mau diskusi hal kecil tapi menarik, hanya saja sebaiknya tak bersandar pada film semata. Kalau tak bisa membaca teks Yunaninya, bisa baca terjemahan Indonesia di buku fisik atau Inggrisnya secara gratis di media daring. Odyssey atau nama asli Yunaninya Odysseus dan Latinnya Ulysses, saya terjemahkan jadi Odise sesuai terjemahan Pustaka Utama Grafiti dalam seri Mitologi Yunaninya.

Nah, ada adegan ikonik dalam kisah ini, saat Odise terjebak di gua monster bermata satu, Kyklops (Cyclops).

Demi bisa kabur, Odise pakai trik jenius. Pas ditanya siapa namanya oleh Kyklops Polyphemus, ia bilang ala ala D’Masiv, “Aku bukan siapa-siapa (nobody),” Outis dalam teks Yunaninya. Alhasil, ketika mata si Kyklops ditusuk dan dia teriak minta tolong ke circle raksasa, “Tolong, Bukan Siapa-Siapa menyakitiku,” teman-temannya sengit, “pa’an sih, drama banget,” nyuruh dia minum tolak angin lalu tidur. Trik yang brilian, bukan?

Saat Odise dan krunya berhasil kabur naik kapal, penyakit caper (cari perhatian) dan haus validasi sang jagoan kumat. Dia tak terima kalau si monster tidak tahu siapa yang mengalahkannya. Di tengah lautan, diiringi efek suara khas film Nolan, Odise berteriak pamer: “Hei Kyklops! Kalau ada yang tanya siapa yang membutakanmu, bilang saja itu Odise dari Ithaca!”

Gara-gara flexing nama lengkap beserta alamat surel ini, si Polyphemus berdoa ke bapaknya, Dewa Laut Poseidon, untuk mengutuk Odise. Hasilnya? Odise nyasar di laut selama 10 tahun, krunya habis tak bersisa, dan dia harus melewati berbagai penderitaan. Semua itu cuma gara-gara dia gak tahan tidak pamer nama. Familiar ya dengan kultur ini di era medsos?

Di dunia Yunani Kuno, dan di banyak budaya, termasuk tradisi agama, nama seseorang, khususnya pahlawan itu ibarat personal branding yang haqiqi. Konsep “membuat/ mendirikan nama” di masa itu berarti memastikan para penyair, alias influencer dan podcaster zaman old, bakal terus memviralkan kisah epik tokoh itu, bahkan jauh setelah mereka log out dari dunia ini. Makanya, perjalanan panjang Odise itu sebenarnya bukan sekadar agenda mudik fisik ke Ithaca. Lebih dari itu, perjalanannya adalah misi ambisius merebut kembali takhtanya, sekaligus memvalidasi identitas dan nama besarnya biar tetap “centang biru” di mata sejarah.

Pas Odise akhirnya spill identitas aslinya ke warga Phaeacia, dia buka-bukaan identitasnya dan sama sekali nggak ada niat buat low profile atau merendah. Dia langsung flexing dan menyamakan namanya dengan reputasi menterengnya: ‘Kenalin, aku Odise, putra Laertes. Satu bumi juga udah paham kalau aku ini mastermind segala macam taktik, reputasiku udah trending topic sampai ke angkasa!’ (I am Odysseus son of Laertes, known before all men for the study of crafty designs, and my fame goes up to the heavens, terjemahan Lattimore Richmond pada Kitab IX, buku Odysseus karya Homerus).

Dalam episode di negeri Kyklops di awal tulisan ini, memakai nama Outis (“Bukan Siapa-siapa’ alias anon), Odise hanya sedang mode incognito sementara saja, sebagai senjata bertahan hidup. Tapi bagi ukuran pahlawan Yunani, jadi akun anon terus-terusan selamanya itu jauh lebih horor daripada maut. Pas Odise kabur naik kapalnya, egonya dan rasa haus akan validasi (dalam bahasa Yunani, kleos, “kemasyuran”) kembali ke narasi utama hidupnya. Baginya (dan tradisi kepahlawanan Yunani) wajib banget spill identitas aslinya biar si monster (dan siapapun di dunia ini) tahu persis siapa diri dan pencapaiannya.

Nah, di belahan dunia lain, Guru Chuang (Zhuangzi atau saya lebih suka gaya lama, Chuang Tze) yang hidup di abad empat SM, mungkin senyum-senyum geli lihat gayanya si Odise yang kemaruk nama.

Dalam filosofinya, Guru Chuang mengajarkan konsep yang sangat menampar, “Nama itu hanyalah tamu dari kenyataan.”

Guru Chuang percaya, esensi sejati manusia (atau realita, esensi hidup yang sesungguhnya) itu jauh lebih penting daripada reputasi, gelar, atau validasi orang lain. Nama itu ibarat tamu yang datang berkunjung ke rumah kita. Tamu ya sewajarnya saja dijamu, jangan malah disuruh jadi kepala keluarga yang mengatur seisi rumah. Menurutnya, orang yang paling bahagia adalah mereka yang “bukan siapa-siapa” alias tak peduli sama sekali dengan pengakuan dunia. Mereka hidup mengalir seperti air, tanpa beban ego.

Ia berujar, “Kamu udah mimpin dunia ini, dan sistemnya juga udah running well alias aman terkendali. Terus kalau sekarang saya nge-take over posisimu, apa saya melakukannya cuma demi ngejar titel saja? Padahal, nama atau gelar itu ibarat cuma tamu dari kenyataan. Masa iya saya mau repot-repot turun gunung cuma buat cosplay jadi tamu? (You govern the world and the world is already well governed. Now if I take your place, will I be doing it for a name? ‘Name’ is only the guest of ‘reality’ – will I be doing it so I can play the part of a guest?, terjemahan Burton Watson, teksnya bisa diakses di: https://terebess.hu/english/chuangtzu.html#1).

Lagi ujarnya, “Makanya saya berani bilang, Manusia yang udah level ultimate itu zero ego; orang suci itu nggak butuh pengakuan; dan orang bijak sejati itu anti-pansos alias nggak butuh popularitas sama sekali” (Therefore I say, the Perfect Man has no self; the Holy Man has no merit; the Sage has no fame).

Ironisnya, kisah si Odise ini bukti valid dari peringatan Guru Chuang soal betapa toksiknya mengejar nama. Gara-gara terlalu attach sama nama besarnya, Odise malah mengundang kutukan yang membuatnya 10 tahun nyasar di jalan.

Buat Guru Chuang, justru “Bukan Siapa-siapa” alias anon itu justru tujuan hidup sesungguhnya. Coba bayangin, seandainya aja Odise cabut dari negeri Kyklops dengan konsep Guru Chuang dengan tetap stay low profile jadi ‘Bukan Siapa-siapa’, dia pasti udah landing cantik di kampung halamannya di Ithaca bertahun-tahun lebih cepet, aman, tentram, dan pastinya zero drama.

Homerus si penulis saga epik Odise melukiskan pandangan orang Yunani Kuno tentang nama dan kleos (kemasyuran), adalah satu-satunya hal yang bakal survive setelah kita meninggal, makanya worth it diperjuangkan walaupun harus berdarah-darah. Di sisi lain, Guru Chuang, justru berbeda, nama dan reputasi itu ilusi yang bikin stres. Kebebasan sejati baru kita dapatkan kalau ikhlas membiarkan “si tamu” check out dari hidup kita.

Andai Odise belajar ilmu padi Guru Chuang, film Nolan gak bakal berdurasi 3 jam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *