French Fries: Nama yang Tidak Pernah Pulang ke Prancis

Ada satu ironi kecil yang terus hidup di meja makan global: jutaan orang di seluruh dunia memesan French fries tanpa pernah benar-benar bertanya—apa yang membuatnya “French”? Apakah kentang goreng ini memang berasal dari Prancis? Ataukah “French” di sini hanyalah label yang terlanjur dipercaya?

Seperti pada kalkun sebelumnya, kita kembali berhadapan dengan satu fenomena yang sama: makanan yang bergerak lintas wilayah, lalu diberi nama yang tidak selalu setia pada asal-usulnya.

Kentang sendiri bukan tanaman Eropa. Ia berasal dari Andes di Amerika Selatan dan telah dibudidayakan oleh masyarakat Inca jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa (Salaman, 1985). Setelah kolonisasi Spanyol pada abad ke-16, kentang dibawa ke Eropa dan perlahan menjadi makanan pokok di berbagai negara, terutama di wilayah yang kini menjadi Belgia dan Prancis.

Di sinilah cerita kentang goreng dimulai—bukan di Paris, melainkan di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Belgia. Banyak sejarawan makanan mencatat bahwa masyarakat di lembah Sungai Meuse, khususnya di Belgia selatan, telah menggoreng irisan kentang sejak abad ke-17 sebagai pengganti ikan saat musim dingin (Toussaint-Samat, 2009). Praktik ini bersifat lokal, sederhana, dan jauh dari imajinasi global tentang French fries yang kita kenal hari ini.

Lalu mengapa ia disebut French fries?

Salah satu penjelasan paling populer mengarah pada Perang Dunia I. Tentara Amerika yang ditempatkan di Belgia mencicipi kentang goreng lokal tersebut. Namun karena bahasa militer yang digunakan di wilayah itu adalah bahasa Prancis, mereka mengasosiasikan makanan itu dengan “Prancis,” bukan Belgia. Dari situlah istilah French fries mulai digunakan dalam bahasa Inggris (Smith, 2013). Nama ini bukan hasil pengetahuan geografis, tetapi hasil persepsi situasional.

Ada juga penjelasan linguistik lain: kata “French” dalam French fries mungkin tidak merujuk pada negara, melainkan pada teknik memotong—to french dalam bahasa Inggris lama berarti memotong bahan makanan menjadi irisan tipis memanjang. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, makna ini tenggelam, dan publik lebih mudah mengaitkannya dengan Prancis sebagai negara (Ayto, 2012).

Apa pun asal-usul pastinya, satu hal menjadi jelas: nama French fries adalah hasil dari penyederhanaan yang kemudian dilembagakan. Belgia, yang memiliki klaim historis kuat atas asal-usul kentang goreng, justru “menghilang” dari nama globalnya.

Di sinilah kita melihat bagaimana penamaan makanan bisa menjadi arena ketimpangan simbolik. Nama yang melekat bukan selalu milik pencipta, tetapi milik mereka yang memiliki posisi lebih kuat dalam produksi bahasa global. Dalam hal ini, bahasa Inggris—dan pengalaman Amerika—berperan besar dalam menetapkan istilah French fries sebagai standar internasional.

Namun, seperti biasa, praktik lokal tidak sepenuhnya tunduk pada standar global.

Di Prancis sendiri, kentang goreng disebut frites. Di Belgia, ia juga dikenal sebagai frites, tetapi dengan kebanggaan nasional yang jauh lebih kuat. Bahkan, Belgia mengembangkan budaya fritkot—kios khusus yang menjual kentang goreng dengan berbagai saus—yang menjadi bagian penting dari identitas kuliner mereka. Di Inggris, istilah yang digunakan adalah chips, yang dalam konteks Amerika justru berarti keripik tipis. Di Indonesia, kita menyebutnya “kentang goreng,” sebuah terjemahan deskriptif yang menghindari klaim geografis.

Setiap nama ini bukan hanya variasi bahasa, tetapi juga cara yang berbeda dalam “memiliki” makanan tersebut.

Dalam konteks kontemporer, bahkan muncul upaya untuk “meluruskan” nama ini secara politis. Pada tahun 2003, ketika terjadi ketegangan antara Amerika Serikat dan Prancis terkait invasi Irak, beberapa restoran di AS sempat mengganti istilah French fries menjadi freedom fries sebagai bentuk protes simbolik (Levenstein, 2012). Meskipun bersifat sementara dan cenderung satiris, peristiwa ini menunjukkan bahwa nama makanan bisa menjadi alat ekspresi politik.

Namun, pada akhirnya, French fries tetap kembali ke namanya semula. Ini menunjukkan satu hal penting: begitu sebuah nama mengakar dalam praktik global, ia sangat sulit digeser—bahkan oleh agenda politik sekalipun.

Jika kita kembali ke perspektif culinary onomastics, kasus French fries menegaskan bahwa nama makanan adalah hasil negosiasi panjang antara sejarah, bahasa, dan kekuasaan. Ia bukan sekadar label netral, tetapi produk dari siapa yang berbicara, dari mana mereka berbicara, dan dalam bahasa apa dunia itu diceritakan.

Maka ketika kita menyebut French fries, kita sebenarnya sedang mengulang satu narasi yang tidak pernah sepenuhnya akurat—tetapi justru karena itu, ia menjadi bagian dari kenyataan global yang diterima bersama.

Seperti kalkun yang “tersesat” di Turki dan India, kentang goreng pun tidak pernah benar-benar pulang ke Prancis. Ia hidup dalam nama yang mengembara, dan dalam pengembaraan itu, ia menemukan tempat di hampir setiap sudut dunia.


Bibliografi

  • Ayto, J. (2012). The Diner’s Dictionary: Word Origins of Food and Drink. Oxford University Press.
  • Levenstein, H. (2012). Fear of Food: A History of Why We Worry about What We Eat. University of Chicago Press.
  • Salaman, R. N. (1985). The History and Social Influence of the Potato. Cambridge University Press.
  • Smith, A. F. (2013). Potato: A Global History. Reaktion Books.
  • Toussaint-Samat, M. (2009). A History of Food. Wiley-Blackwell.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *