Sebuah kota tidak hanya dibangun dengan batu, jalan, dan bangunan. Ia juga dibangun dengan nama. Dan kadang, perubahan paling penting dalam sejarah sebuah kota tidak terjadi pada bentuk fisiknya, melainkan pada apa yang kita sebut ketika merujuk kepadanya.
Kita hari ini mengenalnya sebagai Jakarta—pusat pemerintahan, ekonomi, dan kehidupan modern Indonesia. Namun, sebelum nama itu menjadi resmi dan akrab di lidah, kota ini pernah disebut dengan nama lain: Batavia.
Perubahan dari Batavia menjadi Jakarta bukan sekadar pergantian istilah. Ia adalah pergeseran makna. Sebuah upaya untuk mengubah cara sebuah ruang diingat—dan oleh siapa.
Dalam perspektif kajian penamaan, perubahan ini tidak pernah netral. Ia adalah tindakan simbolik yang menandai berakhirnya satu rezim kekuasaan dan lahirnya yang lain. Sebagaimana ditegaskan dalam Imagined Communities, bangsa dibangun melalui praktik simbolik yang berulang—dan nama adalah salah satu medium paling kuat dalam proses itu.
Dari Jayakarta ke Batavia: Nama sebagai Proyek Kolonial
Sebelum menjadi Batavia, wilayah ini dikenal sebagai Jayakarta, sebuah nama yang berasal dari bahasa Sanskerta: jaya (kemenangan) dan karta (dicapai atau diwujudkan). Nama ini tidak hanya menunjuk tempat, tetapi juga membawa makna politis—sebuah kemenangan yang dirayakan, sebuah ruang yang telah “ditaklukkan” dalam konteks lokal (Ricklefs, 2001).
Namun, ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menguasai wilayah ini pada awal abad ke-17, nama itu tidak dipertahankan. Ia diganti menjadi Batavia—nama yang diambil dari suku Batavi di Eropa, yang oleh Belanda dianggap sebagai leluhur simbolik mereka.
Penggantian ini bukan kebetulan.
Dengan menamai kota ini Batavia, kolonialisme Belanda tidak hanya menguasai wilayah secara fisik, tetapi juga secara simbolik. Mereka menanamkan identitas Eropa ke dalam ruang yang sebelumnya memiliki makna lokal. Nama Jayakarta, dengan seluruh sejarah dan kosmologinya, secara perlahan dipinggirkan.
Di sinilah kita melihat bahwa penamaan adalah bagian dari proyek kolonial.
Ia bukan hanya soal administrasi, tetapi tentang siapa yang berhak mendefinisikan realitas. Dengan mengubah nama, kolonialisme menciptakan ilusi bahwa ruang tersebut telah sepenuhnya menjadi bagian dari dunia mereka.
Dari Batavia ke Jakarta: Nama sebagai Dekolonisasi Ingatan
Ketika Indonesia merdeka, salah satu langkah simbolik yang diambil adalah mengembalikan nama kota ini menjadi Jakarta—sebuah bentuk yang berakar dari Jayakarta. Perubahan ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya sangat mendalam.
Mengganti Batavia dengan Jakarta adalah upaya untuk merebut kembali ruang dari narasi kolonial.
Nama Batavia tidak hanya ditinggalkan karena ia asing, tetapi karena ia membawa beban sejarah: penaklukan, eksploitasi, dan dominasi. Dengan menghapus nama itu dari penggunaan resmi, negara Indonesia berusaha menghapus jejak simbolik kolonialisme dari ruang publik.
Namun, seperti yang sering terjadi dalam proses sejarah, penghapusan tidak pernah sepenuhnya berhasil.
Batavia masih hidup dalam arsip, dalam nama gedung, dalam ingatan kolektif tertentu, bahkan dalam percakapan sejarah. Ia tidak benar-benar hilang—ia hanya dipindahkan dari ruang publik ke ruang memori.
Di sinilah kita melihat bahwa perubahan nama bukan sekadar penggantian, tetapi negosiasi.
Sebagaimana dibahas dalam kajian critical toponymy (Berg & Vuolteenaho, 2009), setiap perubahan nama adalah hasil tarik-menarik antara ingatan lama dan identitas baru. Nama baru mencoba menegaskan masa depan, sementara nama lama terus menghantui sebagai bagian dari masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.
Pada akhirnya, kita menyebut Jakarta setiap hari tanpa memikirkan Batavia. Kita hidup dalam nama yang telah “dinaturalisasi”—seolah-olah ia selalu ada, seolah-olah ia tidak pernah berubah.
Padahal, di balik satu kata itu, tersimpan sejarah panjang tentang penaklukan dan perlawanan, tentang penghapusan dan pengembalian, tentang siapa yang pernah berkuasa dan siapa yang berusaha mengambil kembali makna ruangnya.
Toponym, dalam hal ini, bukan sekadar nama tempat.
Ia adalah medan di mana sejarah diperebutkan—dan kadang, direbut kembali.
Bibliografi
Anderson, B. (1991). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.
Berg, L. D., & Vuolteenaho, J. (2009). Critical Toponymies: The Contested Politics of Place Naming. Farnham: Ashgate Publishing.
Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford: Stanford University Press.


