Saya ucapkan selamat menghayati rangkaian ibadah Pekan Suci bagi teman-teman yang menjalaninya. Mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan puncaknya Minggu Paskah. Bagi sebagian orang Kristen, Minggu Paskah adalah seperti Idul Fitri, ajang balas dendam kuliner setelah “puasa” dan “pantang” selama 40 hari sejak Rabu Abu.
Tahun 2026 ini memang terasa sangat spesial dan adem. Sepertinya ada konspirasi semesta ibadah “puasa” berdekatan: Nyepi-nya Hindu, Ramadan-nya Muslim, dan Pra-Paskah Kristen.
Tahukah Anda di balik nama Paskah tersimpan versi dan kontroversi? Drama ini bukan karena Google Translate ngambek atau Gemini-nya error, tapi karena nama adalah medan transformasi, memori, ideologi, tapi juga medan pertempuran sejarah, politik, dan psikologi.
Mari flashback ke akar kata Ibrani nama Paskah, pesakh. Kata ini sebenarnya punya double identity alias homonim. Makna pertama yang paling populer adalah “melewati”. Ini merujuk pada kisah blockbuster di Kitab Keluaran, saat Malaikat Maut “melewati” rumah orang Israel di Mesir karena ada tanda darah domba di ambang pintu mereka. Makna kedua agak random, yaitu “timpang” atau “berjingkrak-jingkrak”, merujuk pada ritual tertentu di masa lalu (Kitab 1 Raja-Raja 18:26).
Tentu saja, Kekristenan mengambil makna pertama: hari pembebasan dari perbudakan Mesir, yang kemudian di-upgrade maknanya menjadi hari penebusan lewat kematian dan kebangkitan Yesus sebagai Sang Domba Paskah.
Sampai di sini aman ya?
Ketika Kekristenan go international dan menjadi agama dunia, nama ini ikut bertransformasi. Dari bahasa Ibrani (Pesakh), mampir ke bahasa Aram (Paskha) yang jadi bahasa gaul zaman Yesus, lalu ditransliterasi ke bahasa Yunani (Pascha), sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Oh ya, khusus Paskah Yahudi, orang Inggris memakai kata Passover,terjemahan harfiah dari “melewati” warisan penerjemah Alkitab William Tyndale.
Nah, dari penyebaran ini, lahirlah beberapa “Jalur” penamaan Paskah:
Pertama, Jalur Copy-Paste (Fonetis). Bangsa-bangsa yang langsung dikristenkan oleh Kekaisaran Romawi memilih jalur aman dengan mempertahankan bunyi aslinya. Jadilah Paques (Perancis), Pascua (Spanyol), Páscoa (Portugis), yang diserap bahasa Indonesia jadi Paskah, Pasqua (Italia), Paskha (Rusia), An Cháisc (Irlandia), Pace (Skotlandia), Påske (Denmark), Paskalya (Turki), dan lainnya.
Kedua, Jalur Kontekstualisasi. Di sinilah drama dimulai. Bangsa Anglo-Saxon dan Jermanik menamainya Easter (Inggris) dan Ostern (Jerman). Jauh banget, kan? Ibarat pesan sate ayam, yang datang malah steak wagyu. Sampai sekarang nama ini masih kontroversial. Ada yang bilang Easter itu merujuk pada fajar (Yesus sebagai “Surya Kebenaran”), tapi banyak juga yang yakin ini adalah hasil “bajakan” dari nama dewi musim semi pagan bernama Eostre. Saking panasnya kontroversi ini, banyak orang Kristen berbahasa Inggris ogah pakai kata Easter dan lebih memilih Pesakh.
Ketiga, Jalur Begadang Kudus (Deskriptif). Orang Polandia menyebutnya Wielkanoc, yang artinya “Malam Tirakatan” atau “Malam yang Agung”. Makna serupa juga dipakai di Ceko (Velikonoce) dan Slovakia (Velká Noc).
Keempat, Jalur Teologis. Di Serbia dan negara-negara Balkan, mereka menyebutnya Uskrs atau Vaskrs. Makna harfiahnya keren banget: “memantik kehidupan”. Ibarat menyalakan mesin yang sudah mati, ini adalah deklarasi aktif tentang kebangkitan. Begitu juga di negeri wuxia dan manhwa: Tiongkok (Fu Huo Jie) dan Korea (Buhwaljeo) yang artinya juga “Kebangkitan.”
Kelima, Jalur apa ya? Rada berbau kuliner. Paskah sebagai “makan daging.” Misalnya Húsvét (Hungaria). Sangat to the point dan jujur setelah 40 hari puasa?
Dari kacamata onomastik, keragaman ini sangat masuk akal. Secara sosio-onomastik, nama adalah seragam identitas. Memakai kata Paskah yang fonetis atau Easter yang kontekstual adalah cara kelompok tertentu menunjukkan solidaritas in-group mereka.
Lalu, ada efek psikologis. Nama yang berbeda ternyata memprogram otak kita merasakan dan menghadirkan vibe yang berbeda pula. Coba bayangkan orang Polandia merayakan Wielkanoc (Malam yang Agung). Otomatis suasananya jadi syahdu, sakral, dan penuh misteri. Bandingkan dengan orang Amerika yang merayakan Easter. Yang terbayang langsung musim semi ceria, warna pastel, dan kelinci lucu yang menyembunyikan telur.
Ibarat menonton satu film yang sama, tapi yang satu soundtrack-nya musik orkestra yang bikin merinding, sementara yang satu lagi pakai lagu pop ceria.
Begitulah Paskah. Merangkul banyak versi sekaligus kontroversi. Beda nama, beda rasa, satu hati.

