Loading...
Tinjauan Kebijakan

Tinjauan Kebijakan dalam Politik Penamaan di Provinsi Sumatera Barat

Sebagai sebuah negara bangsa, Indonesia perlu merawat basis identitas budaya masyarakatnya. Di tengah globalisasi peradaban dunia, identitas kebangsaan diperlukan sebagai penciri bangsa sekaligus pemersatu masyarakatnya. Hal ini berarti bahwa negara berkepentingan untuk terus mempertahankan identitas kebangsaan ini.

Salah satu komponen identitas budaya tersebut ialah bahasa. Bangsa Indonesia tersusun dari beragam suku yang memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda. Bahasa-bahasa di Nusantara ini juga secara aktif digunakan oleh masyarakatnya masing-masing sebagai identitas individual melalui penamaan diri bagi anak-anak mereka selama berabad-abad.

Di tengah arus besar globalisasi, identitas individual yang diturunkan dari khazanah bahasa-bahasa di Nusantara ini menjadi rentan karena masyarakat dengan mudah mengadopsi khazanah linguistik yang lebih luas untuk mengekspresikan semangat global. Akibatnya, nama-nama yang berbasis tradisi semakin lama ditinggalkan orang. Oleh karena itu, dalam rangka konservasi khazanah perbendaharaan nama yang berbasis tradisi dan khazanah bahasa-bahasa di Nusantara, negara perlu hadir melalui politik penamaan. Dalam konteks Sumatera Barat, dimana jumlah nama Minang sudah turun secara dramatis, maka negara perlu hadir untuk melakukan konservasi.

Dalam demokrasi, kehadiran negara dalam sebuah isu strategis memerlukan payung kebijakan agar cara-cara yang ditempuh menjadi legitimate dan konstitusional. Berkaitan dengan konservasi khazanah perbendaharaan nama yang berbasis tradisi dan khazanah bahasa-bahasa di Nusantara, maka berikut ini diurakan beberapa tinjauan kebijakan yang relevan dengan hal itu.

1. TINJAUAN KEBIJAKAN DI TINGKAT NASIONAL

Salah satu tugas mendasar yang melekat dalam sebuah pemerintahan adalah tugas untuk mengatur. Tugas tersebut termanifestasikan dalam sebuah kebijakan/regulasi yang dirumuskan untuk mengatur aspek kepublikan (publicness) yang ada dalam masyarakat. Pemerintah pusat atau yang dikenal pula dengan sebutan pemerintah nasional telah merumuskan sejumlah kebijakan atau regulasi terkait dengan konservasi budaya penamaan yang berkembang dalam masyarakat Indonesia.

A. Kebijakan di Bidang Hak Asasi Manusia dan Penamaan

Dalam konteks negara, penamaan pasti terkait dengan hak asasi manusia dan kewarganegaraan. Setiap anak yang lahir tidak memiliki kuasa untuk memberi nama atas dirinya sendiri. Ia sepenuhnya bergantung pada relasi kuasa (Foucault, 1982), yaitu kepada orang-orang yang memiliki kuasa atas anak itu. Biasanya, pemilik kuasa atas penamaan anak-anak yang baru lahir ialah orangtua masing-masing. Oleh karena itu, penamaan merupakan hak setiap anak yang lahir di negeri ini. Hal ini mengindikasikan bahwa penamaan selalu terkait dengan hak asasi manusia. Negara harus menjamin bahwa hak atas nama itu harus diberikan semenjak anak-anak itu lahir di negeri ini. Dengan demikian, negara harus memfasilitasi pemberian nama itu melalui catatan sipil.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945, penamaan memang tidak diatur secara spesifik. Meskipun demikian, konstitusi ini memberikan pengakuan tentang hak setiap orang untuk membangun keluarga dan memiliki keturunan, serta perlindungan terhadap anak-anak mereka. Dalam konteks ini, penamaan merupakan hak setiap anak yang dijamin oleh negara.

Undang-Undang Dasar 1945: Pasal 28-B
1.     Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.

2.     Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Pasal tersebut menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak atas kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan perkembangannya. Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam pasal tersebut, penamaan merupakan bagian integral dari kelangsungan hidup dan pertumbuhan anak-anak. Tanpa adanya penamaan, mereka hanyalah tubuh-tubuh yang tak memiliki identitas. Dengan penamaan tersebut mereka bisa diakui secara sosial, sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang dalam lingkungan sosialnya.

 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Hak asasi manusia adalah sebuah konsep hukum dan norma yang menyatakan bahwa manusia memiliki hak yang melekat pada dirinya karena ia adalah seorang manusia. Hak asasi manusia berlaku kapanpun, di manapun, dan kepada siapapun, sehingga bersifat universal. Hak asasi manusia pada prinsipnya tidak dapat dicabut, tidak dapat dibagi-bagi, saling berhubungan, dan saling bergantung. Hak asasi manusia biasanya dialamatkan kepada negara, atau dalam kata lain, negaralah yang mengemban kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi manusia.

Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa penamaan merupakan salah satu hak asasi yang melekat pada setiap orang atau anak. Setiap anak, sejak kelahirannya, berhak atas suatu nama dan status kewarganegaraan (Pasal 53 – Ayat 1). Dalam hal ini, para orangtua berkewajiban untuk memberikan nama pada anak-anak mereka, agar mendapatkan status kewarganegaraan dari negara. Dengan demikian, negara harus melindungi dan memastikan hak anak-anak itu untuk mendapatkan nama dari orangtua atau keluarganya, atau yang memiliki kuasa untuk itu.

 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 [juncto] Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Undang-undang ini juga menegaskan tentang hak anak yang harus dilindungi oleh negara. Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan (Pasal 5). Dengan demikian, undang-undang ini mengamanahkan kepada setiap orang tua untuk menyematkan sebuah nama diri sebagai identitas diri yang akan membedakan dirinya dengan orang lain.

Sementara itu, Pasal 27 mengatur lebih detail lagi terkait dengan penamaan, yaitu kedudukan anak. Dalam pasal tersebut diatur bahwa:

  • Identitas diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya.
  • Identitas tersebut harus dituangkan dalam akta kelahiran.
  • Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada surat keterangan dari orang yang menyaksikan dan/atau membantu proses kelahiran.
  • Dalam hal Anak yang proses kelahirannya tidak diketahui dan Orang Tuanya tidak diketahui keberadaannya, pembuatan akta kelahiran untuk Anak tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukannya dan dilengkapi berita acara pemeriksaan kepolisian.

Atas dasar itu, negara harus menjamin keterwujudan hak anak atas penamaan semenjak mereka lahir. Oleh karena itu, negara harus mendeteksi setiap kelahiran di setiap titik persalinan (rumah sakit, klinik persalinan, bidan desa, dan lain-lain) di seluruh negeri ini untuk dicatat dalam sistem administrasi kependudukan melalui pemberian Akte Kelahiran.

 Undang-Undang No. 4 Tahun 1961 tentang Perubahan atau Penambahan Nama Keluarga

Undang-undang ini memberi ruang terhadap perubahan nama atau penambahan nama keluarga. Warga negara Indonesia yang tunduk kepada suatu Peraturan Catatan Sipil dan sudah dewasa, dengan mengingat hukum yang berlaku baginya, dapat mengubah atau menambah nama keluarganya hanya dengan izin Menteri Kehakiman dan menurut aturan dalam undang-undang ini (Pasal 1). Atas dasar undang-undang ini, negara mengatur secara ketat adanya perubahan nama. Tidak sebagaimana tradisi masyarakat suku pada masa lalu yang mengakomodasi secara longgar adanya perubahan nama, seperti perubahan nama kecil menjadi nama dewasa, atau perubahan nama setelah menunaikan ibadah haji, negara memberlakukan aturan yang sangat ketat tentang perubahan nama itu. Ada prosedur yang harus dilakukan dengan  mengumumkan di Berita Negara Republik Indonesia (Pasal 6). Akan tetapi, Menteri Kehakiman bisa menolak perubahan atau penambahan nama keluarga yang dikehendaki, jika nama itu dianggap melanggar adat sesuatu daerah atau dianggap sebagai sesuatu gelar atau atas dasar lain yang dianggapnya penting (Pasal 4). Aturan ini menunjukkan bahwa negara mengakomodasi tradisi penamaan yang berlaku di berbagai masyarakat suku, dan tidak menghendaki penyalahgunaan norma-norma adat dalam penamaan.

Dengan aturan dalam undang-undang ini, negara sesungguhnya memiliki kewenangan untuk mengatur penamaan agar identitas warga negara menjadi lebih definitif, tidak berubah-ubah. Dengan demikian, tradisi perubahan nama yang berlaku dalam tradisi masyarakat suku sebelumnya menjadi pupus, karena orang enggan terlibat dalam proses yang rumit untuk melakukan perubahan nama.

Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan [juncto] Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan

Dalam konteks sistem administrasi kependudukan, nama merupakan salah satu data paling penting yang wajib ada dalam semua dokumen kependudukan. Registrasi kependudukan harus mencantumkan nama lengkap beserta Nomor Kartu Keluarga (KK), Nomor Induk Kependudukan (NIK), jenis kelamin, tempat lahir, tanggal/bulan/tahun lahir, agama/kepercayaan, nama ibu kandung, dan nama ayah (Pasal 58 – Ayat 2).

B.Kebijakan di Bidang Pemeliharaan Identitas Budaya dan Penamaan

Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa menghormati identitas budaya dan masyarakat tradisional, bahkan harus mengembangkannya sesuai perkembangan zaman dan peradaban.

Undang-Undang Dasar 1945: Pasal 28-I, Ayat 3
3.     Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.

Konstitusi ini menegaskan bahwa negara memiliki tanggung Minangb besar dalam melakukan konservasi budaya masyarakat di Indonesia. Sebagai negara bangsa, bangsa Indonesia tersusun dari beragam suku bangsa dengan segala pernik budaya, bahasa, dan tradisi masing-masing. Menghadapi era globalisasi, identitas budaya masyarakat di Indonesia menghadapi tantangan yang besar dan beresiko terseret ke dalam arus besar globalisasi. Upaya pertahanan identitas budaya ini tidak bisa diserahkan begitu saja kepada masyarakat tradisi, karena mereka menduduki posisi yang lemah. Mereka tidak bisa dibiarkan sekarat menghadapi arus besar globalisasi. Negara harus hadir dalam dalam upaya pertahanan identitas budaya ini, karena salah satu basis identitas nasional ialah identitas budaya bangsa Indonesia yang terususun dari beragam suku bangsa dengan latar belakang budaya dan bahasa masing-masing.

Salah satu komponen identitas budaya ialah budaya penamaan yang berbasis pada tradisi masyarakat suku di Indonesia. Hampir setiap suku memiliki kekhasan dalam tradisi penamaan, karena nama-nama itu diadaptasi dari konteks linguistik masing-masing suku. Seiring dengan semakin dahsyatnya gelombang globalisasi dewasa ini, budaya penamaan di kalangan masyarakat suku di Indonesia semakin merosot. Oleh karena itu, atas dasar konstitusi Undang-Undang Dasar 1945, negara memiliki tanggung Minangb besar dalam konservasi budaya penamaan.

Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan

Undang-undang ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan (Pasal 1). Hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperteguh jati diri bangsa, serta memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa (Pasal 4).

Meskipun tidak tercantum secara eksplisit dalam undang-undang ini, tradisi penamaan pada masing-masing suku bisa menjadi objek pemajuan kebudayaan daerah, karena nama merupakan salah satu fitur kebahasaan yang diadaptasi dari bahasa daerah (Pasal 5). Sementara bahasa merupakan salah satu komponen utama dalam kebudayaan. Oleh karena itu, undang-undang tentang pemajuan kebudayaan bisa menjadi salah satu kerangka acuan dalam konservasi budaya penamaan di kalangan masyarakat suku di Indonesia.

Undang-undang ini juga mengamanatkan kepada Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah untuk melakukan pengarusutamaan kebudayaan melalui pendidikan untuk mencapai tujuan Pemajuan Kebudayaan (Pasal 7). Hal ini mengindikasikan bahwa dunia pendidikan merupakan salah satu instrumen utama dalam pemajuan kebudayaan dengan memperhatikan asas keberagaman dan kelokalan dalam pemajuan kebudayaan (Pasal 3).

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Oleh karena itu bertujuan untuk mengembangkan strategi konservasi budaya penamaan di kalangan masyarakat suku di Indonesia melalui pendidikan, maka undang-undang ini menjadi relevan sebagai salah satu rujukan. Salah satu konsideran dalam undang-undang ini ialah bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global, sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Lebih lanjut, arahan pengembangan pendidikan berbasis budaya juga menjadi salah satu prinsip utama dalam undang-undang ini. Meskipun harus mengacu pada standar pendidikan nasional (Pasal 36 – Ayat 1), kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik (Pasal 36 – Ayat 2). Di samping itu, kurikulum juga harus memperhatikan keragaman potensi daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, dinamika perkembangan global dan persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (Pasal 36 – Ayat 3). Hal ini mengindikasikan bahwa sistem pendidikan nasional sangat akomodatif terhadap konteks lokal, termasuk bahasa dan budaya lokal dimana salah satu unsurnya ialah penamaan berbasis tradisi yang perlu diakomodasi sebagai salah satu content pendidikan.

  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 79 tahun 2014 tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013

Salah satu cara untuk konservasi budaya penamaan masyarakat suku yang direkomendasikan  ini ialah melalui pendidikan, yaitu melalui pelajaran yang memiliki nuansa muatan lokal. Muatan lokal merupakan bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal yang dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap keunggulan dan kearifan di daerah tempat tinggalnya (Pasal 2 – Ayat 1). Hal ini bertujuan untuk membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan untuk mengenal dan mencintai lingkungan alam, sosial, budaya, dan spiritual di daerahnya; serta melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional (Pasal 2 – Ayat 2). Bahasa daerah merupakan salah satu content yang bisa diaktualisasikan dalam muatan lokal (Pasal 4 – Ayat 1 – Huruf D). Oleh karena nama yang berbasis tradisi merupakan salah satu fitur kebahasaan masyarakat suku, maka penamaan juga bisa menjadi salah satu content yang bisa diaktualisasikan dalam muatan lokal. Adapun strategi pemuatan muatan lokal ini bisa diintegrasikan dengan mata pelajaran seni budaya (Pasal 4 – Ayat 3), atau mata pelajaran bahasa daerah yang berdiri sendiri (Pasal 4 – Ayat 4).

  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 58 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 60 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan.

Dalam ketiga peraturan pemerintah ini dijelaskan bahwa mata pelajaran di tingkat SMP/MTs dan SMA/MA/SMK terdistribusikan ke dalam 2 kategori, yaitu: (1) Kelompok A, merupakan program kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik sebagai dasar dan penguatan kemampuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; dan (2) Kelompok B, merupakan program kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik terkait lingkungan dalam bidang sosial, budaya, dan seni. Mata pelajaran yang termasuk Kelompok A bersifat nasional dan dikembangkan oleh Pemerintah. Sementara mata pelajaran Kelompok B, di samping dikembangkan oleh Pemerintah, dapat diperkaya dengan muatan lokal oleh pemerintah daerah dan/atau satuan pendidikan, serta dapat ditambah dengan mata pelajaran muatan lokal yang berdiri sendiri, dimana penamaan yang berbasis tradisi bisa menjadi salah satu bagian di dalamnya. Dengan meninjau beberapa produk hukum di tingkat nasional, sebagaimana diuraikan di atas, maka policy paper ini memiliki landasan yang kuat untuk dikembangkan menjadi produk kebijakan yang lain di negeri ini, terutama strategi untuk konservasi budaya penamaan melalui dunia pendidikan. Upaya ini tidak bertentangan sama sekali dengan produk-produk hukum dan kebijakan lainnya, bahkan mendukung kebijakan nasional dalam mempertahankan identitas budaya masyarakat Indonesia.

2.TINJAUAN KEBIJAKAN DI TINGKAT DAERAH

Sama halnya dengan konteks pemerintah pusat atau pemerintah nasional, di tingkat lokal atau pemerintah daearah juga mempunya kewenangan untuk mengatur masyarakatnya dengan memproduksi sejumlah kebijakan terkait dengan aspek-aspek kepublikan di tingkat lokal. Penyelenggaraan pendidikan yang dalam konteks penelitian ini adalah terkait dengan penyelenggaraan mata pelajaran muatan lokal, menjadi aspek yang juga diatur di tingkat lokal.

A. Kebijakan di Bidang Pengembangan Muatan Lokal

Di ranah lokal Sumatera Barat, pengembangan mata pelajaran muatan lokal diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 2 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Dalam peraturan ini disebutkan bahwa Penyelenggaraan Pendidikan di Sumatera Barat berazaskan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK), Syara’ Mangato Adat Mamakai,  Alam Takambang Jadi Guru , kearifan lokal dan keunggulan daerah. Dari aspek Kurikulum satuan pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan memuat isi sesuai dengan standar nasional dengan mengadopsi dan mengintegrasikan kondisi dan potensi lingkungan alam, budaya dan sumber daya manusia serta nilai-nilai kehidupan di daerah. Isi kurikulum sebagaimana dimaksud, diimplementasikan dalam mata pelajaran sesuai dengan struktur kurikulum nasional dan/atau mata pelajaran lain tersendiri dalam bentuk pembelajaran formal dan/atau praktik kehidupan beragama, beradat, berbudaya serta berteknologi secara terpadu, termasuk mata pelajaran yang mewadahi materi yang berkenaan dengan kearifan lokal dan keunggulan daerah(Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 2 Tahun 2009).

Sesuai dengan struktur dan alokasi waktu yang tersedia dalam kurikulum nasional satuan pendidikan, muatan lokal dalam kurikulum meliputi mata pelajaran: Budaya Alam Mingkabau (BAM) dan Pendidikan Al Qur’an untuk SD, SMP dan SMA/sederajat. Pembelajaran BAM fokus pada pembinaan sikap mental dan keterampilan hidup yang bersifat lokal. Adapun untuk mata pelajaran muatan lokal Pendidikan Al Qur’an difokuskan pada pengebangan potensi peserta didik dalam baca tulis Al-Qur’an. Pelaksanaan sebagaimana dimaksud diatur sesuai dengan kewenangan yang dimiliki Pemerintah Daerah Propinsi atau Kabupaten/Kota.

Adapun mata pelajaran yang secara eksplisit mempelajari budaya dan adat di inangkabau adalah mata pelajaran muatan lokal BAM. Pada tingkat SD, materi BAM lebih diutamakan pada keterampilan dasar dan konsep adat-istiadat dalam bentuk yang kongkret. Dalam konteks ini materi yang diajarkan harus bisa dipraktikkan oleh siswa sehingga menjadi keterampilan dalam kehidupannya. Materi yang bersifat konsep harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh adalah materi mamak atau pangulu. Peserta didik harus tahu siapa saja mamak dan pangulunya dan bagaimana ia berperilaku pada mamak dan pangulunya. Pada tahap ini, belum diajarkan sifat-sifat dan syarat-syarat menjadi pangulu(Agustina, 2013).

Sebagai gambaran pembelajaran BAM di kelas IV, dari segi keterampilan antara lain diajarkan bagaimana bersopan santun dengan menerapkan sumbang duo baleh dan aneka permainan rakyat. Sedangkan dari segi konsep diperkenalkan tentang mamak jo kamanakan dalam arti apa fungsi mamak terhadap kamanakan dan apa kewajiban kamanakan terhadap mamak. Di Kelas V, keterampilan yang diajarkan terkait dengan penerapan sopan santun kato nan ampek[1] dan mampu menarikan beberapa tarian tradisional (minimal yang umum). Sedangkan dari segi konsep, mengerti tentang induak bako dan anak pisang dengan mengenal fungsi dan peran masing- masingnya. Di kelas VI, mengenal dan mengerti aneka masakan tradisional dan alat transportasi tradisonal. Sedangkan dari segi konsep mengenal bentuk, jenis, dan fungsi rumah gadang, rangkiang, dan mengenal wilayah dan sejarah Minangkabau (Agustina, 2013).

Pada tingkatan SMP materi pembelajaran lebih diutamakan pada keterampilan-keterampilan yang bersifat lebih tinggi dan pengenalan konsep yang lebih abstrak. Pada tahap ini, materi tentang syarat-syarat pangulu dan batas wilayah, tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin[2], yang dirumuskan secara abstrak dalam bentuk mamangan atau perumpamaan sudah dapat diajarkan dengan cara tetap mencarikan pemaknaannya secara kongkret. Demikian juga tentang sastra Minangkabau yang sarat dengan pantun dan gurindam, serta pasambahan dan patatah-patitiah.

Perwujudan keterampilan-keterampilan serta konsep-konsep tersebut menjadi kompetensi yang nantinya akan bermanfaat bagi kehidupan peserta didik. Materi ajar yang baik dan efektif berkontribusi dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Untuk pembelajaran yang bersifat afektif dan psikomotorik, metode dan media pembelajaran serta alat ukur evaluasi menggunakan pengukuran yang bersifat unjuk kerja, baik di kelas mapun di luar kelas(Agustina, 2013).

Bahasa pengantar untuk mata pelajaran BAM dan kearifan lokal serta keunggulan daerah menggunakan bahasa daerah Minangkabau atau bahasa daerah setempat. Bahasa daerah Minangkabau tidak diajarkan secara khusus sebagai mata pelajaran muatan lokal. Hal ini diantaranya disebabkan oleh perbedaan ragam bahasa daerah Minangkabau di berbagai daerah di Provinsi Sumatera Barat. Lebih lanjut hal tersebut berdampak pada kompleksitas struktur dan ragam bahasa tersebut.

Berdasarkan proses pelacakan yang telah dilakukan, diketahui bahwa mata pelajaran BAM ini telah mulai diterapkan sejak tahun 1995 (Rayendra, 2013). Kurikulum ini diterapkan untuk jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Penerapan mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang bertujuan untuk memberikan kewenangan bagi daerah  dalam mengambil keputusan publik yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan berdasarkan keinginan masyarakat tersebut. Adapun fungsi mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau yang diterapkan dalam kurikulum muatan lokal adalah untuk;

  1. Memberikan pengetahuan dasar terhadap siswa tentang BAM sebagai bagian dari kebudayaan nasional,
  2. Memupuk dan menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan terhadap alam Minangkabau dalam rangka memupuk rasa cinta terhadap kebudayaan nasional;
  3. Mendorong siswa agar menghayati dan menerapkan nilai-nilai BAM yang relevan dalam kehidupannya;
  4. memberikan dorongan kepada siswa untuk menggali, melestarikan, dan mengembangkan BAM dalam rangka memupuk dan mengembangkan budaya nasional.

 

Berdasarkan elaborasi kebijkan, baik di tingkat pusat maupun lokal, diketahui bahwa belum ada satupun kebijakan yang mengatur konservasi penamaan sebagai bagian dari konservasi budaya. Di tingkat pusat, pengaturan penamaan lebih terkait dengan aspek individu terkait dengan pencatatan sipil. Pun demikian di daerah. Oleh karena itu menjadi penting untuk melahirkan satu produk kebijakan, baik di tingkat pusat maupun lokal yang mengintrodusir penamaan sebagai bagian dari konservasi budaya lokal.

[1] Penjabaran dari kato nan ampek merupakan salah satu perwujudan dalam memberikan pemahaman budaya dengan tujuan akhir pembentukan karakter atau pribadi yang santun dalam bertutur kepada siswa yang dipelajari pada mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau. Secara sederhana kato dapat diartikan sebagai sebuah tata aturan dalam berkomunikasi antar sesama komunikator yang dikenal dengan istilah kato nan ampek. Ada empat kategori kesantunan yang dipakai dalam bahasa Minangkabau. Pertama, kato mandaki; tatakrama bertutur kepada orang yang lebih tua. Kedua, kato malereang; tatakrama bertutur kepada orang yang disegani. Ketiga, kato mandata; tatakrama bertutur kepada teman sebaya. Keempat, kato manurun; tatakrama kepada orang lebih muda. Pelestarian kesantunan dalam berbahasa ini tentunya memberikan sumbangan positif terhadap pembangunan karakter di masa datang.

[2] Tungku tigo sajarangan menggambarkan lambang dari tiga unsur kepemimpinan di Minangkabau yang sangat potensial, yaitu ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai. Sedangkan tali tigo sapilin menggambarkan tiga landasan tempat berpijak ketiga unsur kepemimpinan tersebut, yakni: adat,  syarak, undang-undang.

Baca Juga:  Tinjauan Kebijakan dalam Politik Penamaan di Provinsi Maluku
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *