Loading...
Artikel Budaya

Identitas Minahasa: Sebuah Praktik Kuliner (3)


 

Bagian 3 dari 5 bagian

 

Makanan dari bumi

Pada tahap ini kita dapat bertanya, dan memang sudah sewajarnya, bagaimana kumpulan bahan makanan yang terkesan acak ini dapat mewakili ’tradisi‘ dan ’kebudayaan‘ Minahasa, lebih dari bahan makanan lainnya— setidaknya di mata mereka yang menggunakan bentuk penggolongan tersebut? Jika memang demikian halnya, apakah ada kesamaan yang tersembunyi antara ketiga ’kategori’ yang sekilas terlihat cukup beragam tersebut?

Saya tidak akan membandingkan kategori-kategori tersebut dengan kebiasaan makan masa kini, yang jelas tidak akan membuahkan banyak hasil, dan memilih untuk menelusuri asal-usul beragam bahan makanan tersebut. Bersama bahan yang dibutuhkan untuk tinutuan, cabai tumbuh baik di kebun milik pribadi maupun di pertanian-pertanian komersial di seluruh Minahasa. Meskipun demikian, dipengaruhi faktor tanah dan iklim, daerah penanaman utama sayur-mayur adalah daerah pegunungan. Kebun-kebun dan hutan-hutan di daerah itu juga merupakan tempat berburu hewan sehingga dibandingkan mereka yang bermukim di pesisir, penduduk pegunungan memproduksi lebih banyak bahan dasar hidangan tradisional. Hal ini bukan kebetulan. Pedalaman adalah tempat yang dihuni oleh orang Minahasa ’asli’ dan dianggap pusat tradisi terkuno dan terkokoh. Daerah pedalaman adalah tanah nenek moyang masyarakat yang kini ada serta tanah para leluhur terhormat yang makanannya terdiri atas sayur-mayur, umbi-umbian, serta binatang buruan, dan bukan ikan air asin. Definisi ’pedalaman’ lebih ditentukan oleh morfologi tanah yang cocok untuk pertanian dan bukan pada jarak aktual suatu tempat dari laut.

Contoh yang mewakili hal tersebut adalah desa Waleo dan sekitarnya yang terletak di pantai Timur Laut Minahasa. Meskipun desa tersebut letaknya hanya beberapa menit berjalan kaki dari pantai, mayoritas penduduknya merupakan petani yang bekerja di kebun-kebun. Generasi muda zaman sekarang semakin banyak yang memilih mencari mata pencaharian di kota dan menghabiskan makin sedikit waktu dan energi untuk bercocok tanam. Namun demikian, kepemilikan tanah masih merupakan sumber identitas dan kebanggaan. Mereka yang kini berusia 30-40-an senang mengenang masa muda mereka (sekitar 20 tahun lalu) saat kehidupan di desa sangat berbeda dari sekarang. Indikator yang digunakan adalah jumlah waktu yang mereka habiskan di kebun dan intensitas pekerjaan bercocok tanam. Kebanyakan keluarga berada di kebun mereka dari hari Senin hingga Sabtu, hidup dan bekerja di sana. Mereka kembali ke desa di hari Minggu. Selama seminggu itu, mereka hidup dari hasil kebun, antara lain umbi-umbian, jagung, sayur-mayur, sejumlah kecil beras, telur, terkadang ayam, anjing, atau hewan hasil buruan lainnya. Ikan asin terkadang tersedia juga, tetapi ikan segar disimpan untuk hari Minggu. Perubahan pola kerja, tempat, dan gaya hidup juga menimbulkan perubahan dalam kebiasaan makan. Saat ini, makanan yang terdiri atas ikan dan nasi, diperoleh dengan membeli, telah menggantikan kebiasaan lama dalam cara makan. Umbi-umbian, jagung dan sayur-mayur ditambahkan dalam jumlah sedikit dan hanya mereka yang kurang berkecukupan saja yang masih menanam sendiri bahan-bahan tersebut. Tinutuan, salah satu makanan Minahasa yang paling terkenal, dianggap ’makanan orang miskin’. Hasil berkebun yang dicampur dan dijadikan bubur konon ’ditemukan’ semasa penjajahan Jepang saat makanan sulit diperoleh. Selain itu, tinutuan mudah dimasak dan disiapkan saat orang tinggal di kebun karena semua bahan sudah tersedia. Jika zaman dahulu tinutuan dimasak sesuai kebutuhan para petani, penduduk kota perlahan-lahan menganggap-nya sebagai hidangan lezat yang sesuai untuk sarapan kedua. Dengan begitu, statustinutuan meningkat menjadi hidangan khas daerah.

Baca Juga:  Identitas Minahasa: Sebuah Praktik Kuliner (2)

Secara singkat, kesamaan berbagai bahan makanan ini (cabai—hewan buruan—tinutuan) adalah identik dengan asal-usul mereka. Bahan-bahan tersebut atau bumbu-bumbu yang diperlukan bukanlah hasil laut melainkan hasil bumi atau binatang yang diburu, dikumpulkan atau dipanen di kebun dan hutan daerah pedalaman. Sebagai pemburu, pengumpul makanan, dan petani, orang Minahasa meneruskan tradisi (kuliner) nenek moyang mereka, yang juga menempati daerah pegunungan. Dengan demikian, mereka memenuhi syarat sebagai keturunan ’asli’ orang Minahasa. Sebagai pemilik dan pengolah tanah, dan dengan menunjukkan pemahaman mereka tentang wilayah dan daerah tertentu, orang Minahasa membuktikan keterikatan pada dan kepemilikan sah atas tanah. Para leluhur terikat pada tanah dan juga berlaku sebaliknya, keduanya dikaitkan dalam mitos-mitos dan ’sejarah’. Meskipun penduduk daerah pegunungan memiliki ’kehormatan’ untuk diakui sebagai orang Minahasa ’asli’, penduduk pesisir juga dapat meraih status yang hampir sama jika mereka dapat membuktikan akar dan posisi mereka dalam sejarah Minahasa serta kaitan pada tradisi yang, hingga taraf tertentu, ditentukan oleh lanskap. Jadi dengan memproduksi dan mengkonsumsi jenis makanan tertentu, orang Minahasa membuat pernyataan tentang status sosial, posisi dalam masyarakat, dan identitas budaya mereka. Jika mereka memilih hasil kebun dan hutan sebagai representasi budaya dan masyarakat mereka, mereka tidak hanya menegaskan ikatan dengan para leluhur dan tanah yang pernah dihuni nenek moyang, tetapi sekaligus juga menciptakan jarak dengan Yang Lain, baik yang hidup di dalam maupun di luar wilayah Minahasa.

Meskipun dewasa ini makanan pokok sehari-hari adalah ikan (di samping nasi) dan jumlah orang Minahasa yang bekerja sebagai nelayan cukup banyak, status kegiatan menangkap ikan tidak setinggi bertani dan bercocok tanam. Komunitas petani menjaga jarak mereka dari komunitas nelayan untuk sejumlah alasan. Hak atas tradisi mempunyai ikatan dengan leluhur dan kepemilikan tanah. Memancing bukan saja pekerjaan yang ’tidak tradisional’ (dengan demikian ikan tidak dianggap sebagai makanan khas Minahasa) tetapi juga biasanya dilakukan oleh mereka dengan luas tanah yang tidak seberapa atau bahkan tidak memiliki tanah sama sekali.[1] Lebih lanjut lagi, mayoritas orang Mus-lim di Minahasa menempati daerah pesisir, tinggal di pemukiman nelayan dan bekerja sebagai nelayan. Perpecahan antara petani dan nelayan, meskipun tidak selalu dan sama di semua tempat, adalah perpecahan antara orang tradisional ver-sus non-tradisional, pemilik tanah versus yang tak memiliki tanah, Minahasa versus non-Minahasa serta Kristen versus Muslim.

 

’KAMI makan babi sementara MEREKA makan sapi’

Pada bagian sebelumnya saya telah membahas tentang apa yang disebut makanan ’khas’ Minahasa, yaitu hidangan yang menggunakan bahan dasar yang merupakan kekhasan daerah tersebut dan masih terkait pada cara produksi dan konsumsi tradisional. Menurut penduduk lokal, pesta merupakan ajang istimewa untuk menampilkan berbagai tradisi kebudayaan, tetapi anehnya makanan khas tidak disajikan. Meskipun terdapat variasi antardaerah, pada umumnya di saat pesta, yang disajikan adalah hidangan yang menggunakan daging babi sebagai bahan dasar. Hal yang lebih menarik lagi adalah kenyataan bahwa hidangan daging babi tersebut diolah dengan hanya sedikit cabai dan bumbu lain. Dengan cara itu, rasanya menjadi lembut dan bahkan ’hambar’ jika dibandingkan dengan hidangan-hidangan daging lain yang biasa disajikan di rumah-rumah dan restoran.

Baca Juga:  Identifikasi Isu-Isu Penamaan dalam Masyarakat Minahasa

Selera untuk daging hewan buruan, ayam, atau ikan air tawar masih ada, babi tetap menempati urutan pertama dalam daftar hewan yang dapat dimakan dan daging babi adalah jenis daging yang paling digemari. Daging babi (baik direbus, digoreng, maupun dipanggang) pasti disajikan dalam tiap acara istimewa. Arti ekonomis babi tidak mengejutkan karena, pertama-tama, babi mengandung lebih banyak daging dan lemak dibandingkan jenis binatang lain dan dengan demikian menunjukkan kekayaan si pemilik ataupun mereka yang dapat membeli dan menyembelihnya. Tersajinya satu babi utuh, atau bahkan beberapa hewan adalah tanda keistimewaan acara karena tuan rumah bersedia membuat pengorbanan yang berarti. Dewasa ini, hal tersebut biasa terjadi dalam rangka pernikahan, pembaptisan, pemakaman, dan terkadang saat perayaan ulang tahun yang besar. Babi juga bernilai tinggi karena merupakan tokoh penting dalam mitos dan kosmologi or-ang Minahasa. Menurut mitos, seekor babi kuno yang besar membawa dunia di atas punggungnya sementara versi lain mengatakan bahwa babi dikorbankan dalam upacara yang dilakukan dewa-dewa penghuni dunia kejahatan (Tauchmann 1968: 121). Hingga beberapa dekade lalu, meramalkan masa depan dengan mempelajari hati babi yang baru disembelih merupakan sesuatu yang biasa dilakukan (Pusung 1994). Lebih dari binatang lain, babi mewakili tradisi Minahasa dan mempunyai ikatan dengan leluhur dan wilayah. Walaupun demikian, kegemaran memakan daging babi bukan sesuatu yang ditemui semata pada orang Minahasa melainkan juga pada komunitas-komunitas non-Muslim di seluruh Indonesia. Dengan demikian kegemaran memakan daging babi kurang tepat jika dianggap sebagai indikator identitas Minahasa yang membedakan mereka dari kelompok Yang Lain (Others ). Kebiasaan tersebut justru menyatakan penyatuan yang lebih luas dan melampaui batas wilayah Minahasa. Sebagai ’pemakan babi’, orang Minahasa menempatkan diri mereka dalam satu kategori dengan Yang Lain (Others) yang dikenal sebagai orang Kristen, orang Hindu, dan orang Buddha. Dengan memperluas kesamaan dengan orang luar (outsiders) tersebut, perbedaan dengan kelompok Muslim makin mencolok. Hal ini tidak hanya terjadi di tingkat daerah saja tetapi juga di tingkat nasional dan bahkan internasional. Minahasa menekankan kesetiaan mereka pada agama Kristen yang, walau berakar pada masa awal kolonisasi Eropa, baru menyebar dengan cepat setelah misionaris NZG serta didikan mereka hadir di Minahasa. Saat ini, para penjajah telah digantikan oleh komunitas ’dunia Kristen’ dan identifikasi dengan dunia Barat menjadi sikap yang menyatakan oposisi Minahasa terhadap Islam.

Baca Juga:  Rekomendasi Kebijakan dalam Politik Penamaan di Provinsi Sulawesi Utara

Dengan demikian, babi menjadi hewan ideal ketika identitas Minahasa dipertaruhkan. Banyaknya peternakan babi, popularitas dagingnya dan sebagai konsekuensi, di-konsumsinya daging babi dalam jumlah besar dapat dipahami karena babi memiliki makna besar secara tradisional dan dalam agama serta masyarakat Kristen (moderen). Tidak seperti daging hewan lain yang tidak selalu disajikan saat pesta, daging babi dipastikan selalu dihidangkan. Proses persiapannya, yaitu penyembelihan babi, pemotongan dan pemasakan daging hampir merupakan kegiatan ritual yang memiliki beberapa aturan sesuai tradisi Minahasa. Dengan mengunggulkan babi dan mengikuti persiapan masakan secara tradisional, penyelenggara maupun peserta pesta membuktikan keberlangsungan dan pemahaman mereka tentang budaya dan adat tradisional Minahasa dan dengan sendirinya, membuktikan identitas mereka sebagai orang Minahasa. Dalam kehidupan dan interaksi sehari-hari, orang Minahasa kerap menggaris-bawahi kebiasaan memakan babi sebagai penanda dominan perbedaan mereka dengan komunitas Muslim. ’Kami, orang Minahasa, makan babi sementara mereka, orang Muslim, makan sapi’ adalah ucapan yang kerap diutarakan. Orang, tempat, dan peristiwa diidentifikasi sebagai Kristen atau Muslim berdasarkan jenis daging yang disajikan. Karena larangan agama, orang Muslim biasanya tidak makan daging babi, anjing, atau hewan hutan. Mereka memilih menyantap daging sapi dan kambing, baik di pesta, di restoran, atau di rumah.

Dalam hal ini, kebiasaan makan masyarakat Muslim yang tinggal di Minahasa tidak berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia. Di acara-acara umum dan pesta-pesta pribadi yang diadakan di kota-kota besar dengan populasi heterogen (termasuk Muslim), dua jenis makanan disediakan: ’makanan Minahasa’ dan ’makanan nasional’. Dengan begitu, hidangan yang disediakan bagi orang Muslim yang tidak memakan babi dikategorikan sebagai ’hidangan nasional’ meskipun masakan tersebut masih memiliki karakteristik masakan Minahasa dan perbedaannya hanya terletak di jenis daging yang digunakan. Label ini memberi kesan bahwa Islam diakui nyaris sebagai agama nasional yang, bagaimana pun juga, berlawanan dengan, dalam kondisi lain, dukungan pada pluralitas agama dan penolakan dominasi Muslim.

Dalam konteks sehari-hari, pemisahan antara makanan Muslim dan Kristen serta konsumen mereka tidak sekaku yang dikesankan. Ada or-ang-orang Muslim yang juga memakan daging babi atau hewan buruan, setidaknya sesekali dan diam-diam, dan restoran serta warung yang menyajikan ’hidangan Muslim’ juga dikunjungi oleh orang Kristen dan orang Muslim dalam jumlah yang hampir sama banyaknya. Meskipun demikian, banyak orang Kristen Minahasa yang saya jumpai, terutama wanita, menyatakan ketidaksukaan mereka pada daging sapi dan kambing dan menjelaskan bahwa karena rasanya yang aneh, jenis-jenis daging tersebut berada di urutan terbawah daftar daging yang mereka sukai.

[1] Komunitas nelayan sering, tetapi tidak ekslusif, terdiri dari ’orang luar’ yaitu keturunan non-Minahasa yang memiliki keterbatasan akses ke tanah dan sumber daya lainnya


 

Bagian 3 dari 5 bagian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *