Loading...
Identifikasi Isu

Identifikasi Isu Penamaan Masyarakat Bali

Nama diri merupakan salah satu penanda identitas individual yang paling mudah dilihat secara kasat mata. Sebagai salah satu fitur linguistik, nama tersusun dari kata-kata yang diadopsi dari bahasa. Oleh karena produksi nama diri selalu melibatkan relasi kuasa (Foucault, 1982), di mana setiap bayi yang lahir selalu bergantung kepada kuasa orangtuanya untuk diberi nama, maka nama diri selalu terhubung dengan dimensi struktur sosial yang lebih besar, karena para orangtua bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan terikat dalam sebuah struktur yang lebih besar dan berpengaruh atas state of mind para orangtua dalam memberikan nama bagi anak-anaknya. Dengan kata lain, tidak ada satupun agensi sosial yang tidak memiliki cita-cita untuk memiliki kekuasaan dalam penamaan dan untuk menciptakan sebuah dunia melalui penamaan (Bourdieu, Language and Symbolic Power, 1991).

Sebagai salah satu bentuk state of mind para orangtua, trend penamaan dari waktu ke waktu selalu dinamis, mengekspresikan kondisi dan/atau semangat zaman. Pada beberapa titik di lintasan sejarah suatu masyarakat seringkali terjadi perubahan trend penamaan. Perubahan itu seringkali mengiringi perubahan sosial politik, kondisi perekonomian, capaian sejarah, dan lain-lain. Sebagaimana “the politics of onomastics” (Derrida, Signature Event Context, 1982), tanggung Balib seseorang untuk memberi nama pada seseorang yang lain merupakan “the infinite paradox of narcissism” (Derrida, On the Name, 1995, p. 12), dan merupakan kendaraan bagi sebuah generasi untuk menjadi agen dalam pengakuan terhadap identitas diri dan subjek tertentu (Derrida, Politics of Friendship, 1997, p. 250).

 

1. Budaya Penamaan Khas Bali yang Masih Tetap Bertahan

Sebagaimana paparan statistik dalam bab sebelumnya, masyarakat Bali telah menunjukkan ketahanan budaya penamaan yang luar biasa. Di tengah kepungan pariwisata global, masyarakat Bali sukses mempertahankan identitas budaya melalui penamaan diri. Orang Bali tetap bisa mempertahankan sistem penamaan tradisional, meskipun terjadi beberapa modifikasi dan adaptasi. Hal ini bisa terjadi akibat berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Ketika orang-orang dari kelas sosial yang dianggap rendah mengalami mobilitas vertikal akibat pendidikan dan kesempatan ekonomi yang semakin terbuka, mereka semakin meninggalkan label-label kelas sosial yang dianggap rendah, meskipun masih mempertahankan tradisi penamaan yang tak menampilkan label kelas sosial, seperti label gender dan label urutan kelahiran.

Baca Juga:  Identifikasi Isu-Isu Penamaan dalam Masyarakat Dayak

Memang, keunikan budaya, termasuk budaya penamaan, merupakan salah satu daya tarik utama pariwisata Bali. Sejak pertumbuhan pariwisata Bali sejak zaman kolonial, Bali sangat dikenal di Eropa dengan keindahan alam dan keunikan budayanya. Gaung pariwisata Bali yang bergema di Eropa terus-menerus bergema secara global dan bertahan sampai saat ini. Saat ini tidak hanya turis dari Eropa saja yang membanjiri Bali, tetapi juga turis dari Asia, Amerika, Arab, Amerika Latin, dan juga Afrika. Hal ini belum terhitung dengan turis domestik dari wilayah lain di Indonesia. Salah satu orientasi utama dalam gelombang pariwisata Bali sampai saat ini ialah keunikan budaya masyarakatnya, di samping keindahan alam pulau Bali.

 

2. Perubahan dalam Masyarakat Bali

Meskipun masyarakat Bali bisa menunjukkan ketangguhan yang dahsyat dalam budaya penamaan, beberapa perubahan juga telah berlangsung dalam 50 tahun terakhir, terutama dalam 20 tahun terakhir abad ke-20. Perubahan ini mengarahkan pada pemahaman bahwa generasi baru orangtua di Bali telah mengalami mobilitas vertikal yang berbeda dari generasi orang Bali sebelumnya: berpendidikan tinggi, lebih makmur, dan urban. Mereka, terutama dari kasta Waisya, juga lebih percaya diri dengan menanggalkan label kelas bagi anak-anaknya dan menyerupai nama kaum Sudra yang tidak menampilkan penanda kelas pada namanya. Generasi baru orangtua di Bali itu diuntungkan oleh kebijakan pendidikan Orde Baru yang sukses menyelenggarakan pendidikan dasar, dan secara dramatis meningkatkan partisipasi anak-anak orang Bali dalam pendidikan menengah dan pendidikan tinggi (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2015).

 

A. Lunturnya Segregasi Kelas Sosial

Salah satu ciri utama yang khas dalam penamaan orang Bali secara tradisional ialah labelisasi kelas sosial. Akan tetapi, ketika orang Bali dari kelas sosial yang lebih rendah, terutama Waisya, semakin terdidik dan berkecukupan secara ekonomi, labelisasi kelas ini semakin ditinggalkan. Mereka tidak ingin anak-anak mereka menyandang label kelas sosial yang rendah. Akan tetapi, mereka juga tidak mengadopsi nama-nama dari kelas sosial yang tinggi. Meskipun demikian, mereka tetap mempertahankan ciri khas penamaan yang lain, yaitu penanda gender dan urutan kelahiran.

Baca Juga:  Identifikasi Isu-Isu Penamaan dalam Masyarakat Batak

 

B. Pertumbuhan Hibridisasi Penamaan

Pertumbuhan pendidikan di kalangan masyarakat Bali membawa implikasi semakin terbukanya literasi mereka terhadap khazanah nama-nama yang belum pernah ada dalam budaya Bali. Hal ini mendorong transformasi budaya penamaan dalam masyarakat Bali, meskipun mereka masih tetap mempertahankan keunikan lainnya. Seperti halnya dalam lunturnya segregasi kelas sosial, mereka tetap mempertahankan 2 ciri khas dalam penamaan orang Bali: penanda gender dan urutan kelahiran.

 

3. Konservasi Nama Bali

Meskipun pertahanan identitas budaya masyarakat Bali sangat luar biasa, bukan berarti masyarakat Bali tidak mengalami transformasi budaya. Lunturnya segregasi kelas sosial dan pertumbuhan hibridisasi penamaan, sebagaimana telah dijelaskan di atas, merupakan beberapa bentuk transformasi budaya, meskipun keduanya tampak berlangsung lamban. Namun demikian, hal ini tetap merupakan sebuah potensi yang bisa mengikis identitas budaya Bali di kemudian hari. Hal ini bisa saja terjadi melalui konversi agama, pernikahan antar-suku dan agama, dan lain-lain.

Untuk mempertahankan keunikan budaya penamaan di Bali harus dilakukan by design. Salah satu yang bisa dilakukan ialah memperkenalkan nama khas Bali kepada anak-anak sejak dini melalui ranah pendidikan. Oleh karena itu, perlu upaya konservasi budaya penamaan dalam masyarakat Bali.

 

4. Negara Perlu Hadir

Dalam demokrasi di Indonesia, intervensi negara dalam penamaan memang tidak lazim untuk dilakukan, karena kuasa atas penamaan terhadap anak-anak merupakan domain orangtua. Akan tetapi, negara bisa hadir melalui penyadaran kepada masyarakat multikultural di Indonesia untuk mempertahankan keunikan penamaan melalui dunia pendidikan.

Pendidikan merupakan salah satu domain utama negara dalam mengarahkan transformasi sumberdaya manusia. Dan salah satu basis utama pendidikan adalah budaya, termasuk budaya lokal. Di tengah transformasi masyarakat Bali sebagai destinasi pariwisata global, sudah sepatutnya negara melakukan konservasi khazanah tersebut sebagai bagian dari konservasi budaya yang menjadi basis identitas bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, pendidikan bisa merupakan cara yang strategis untuk melestarikan keunikan budaya penamaan dalam masyarakat Bali, terutama melalui pendidikan bahasa Bali.

Baca Juga:  Identifikasi Isu-Isu Penamaan dalam Masyarakat Minahasa

Oleh karena nama Bali hanya berlaku dalam masyarakat Bali, maka negara bisa hadir melalui representasi negara di wilayah lokal, yaitu melalui Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Sebagai representasi negara di Bali, Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Bali bisa melakukan konservasi nama khas Bali melalui pendidikan bahasa Bali di sekolah-sekolah yang ada di Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *